TribunBogor/

Tabrakan Maut di Puncak

Kualitas Pengendara Bus Tabrakan Maut di Puncak Patut Dipertanyakan

sayangnya kebanyakan hanya "mengkambinghitamkan" sisi teknis yang menyangkut soal perawatan bus tanpa memikirkan kondisi lainnya.

Kualitas Pengendara Bus Tabrakan Maut di Puncak Patut Dipertanyakan
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Bus Pariwisata yang terlibat kecelakaan di Tanjakan Selarong, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, sabtu (22/4/2017) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kecelakaan bus di jalur Puncak, Jawa Baratsaat libur panjang akhir pekan kemarin, Sabtu (22/4/2017), menjadi pelajaran berharga pentingnya keselamatan di jalan raya bagi siapapun.

Kejadian itu pun menggundang perhatian banyak kalangan yang mempertanyakan kalaikan dari transportasi umum.

Namun Training Director Jakarta Defensive Driving Center (JDDC) Jusri Pulubuhu, justru memiliki pandangan berbeda.

Menurut Jusri, faktor kecelakaan cukup banyak variabelnya, sayangnya kebanyakan hanya "mengkambinghitamkan" sisi teknis yang menyangkut soal perawatan bus tanpa memikirkan kondisi lainnya.

"Harus diakui selama bertahun-tahun alasan utamanya seputar masalah rem blong, perawatan, dan hal teknis lainnya. Kondisi tersebut tidak salah, tapi ada baiknya juga dipikirkan unsur kalaikan berkendara dari pengemudinya, jadi faktor orangnya juga harus diperhatikan," ucap Jusri kepada KompasOtomotif, Senin (25/4/2017).

Menurut Jusri selain masalah teknis, peran pengemudi yang mengendarakan kendaraan juga tidak kalah penting untuk diperhatikan.

Kebanyakan sopir angkutan umum, khususnya jenis kendaraan besar seperti bus atau travel tidak dibekali dengan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kompetensinya sebagai driver.

"Mungkin ada beberapa driver yang memiliki pegetahuan atau kemampuan berkendara yang baik, namun harus diakui itu tidak semua. Kebanyakan hanya mengandalkan bisa mengendarai dan punya surat izin mengemudi (SIM) saja, tanpa ada bekal-bekal terkait safety driving atau yang sifatnya emergency respon," papar Jusri.

 Selain perawatan, lanjut Jusri, harusnya para pihak terkait di bidang transportasi sudah memikirkan masalah regulasi untuk pengemudi angkutan umum.

Hal ini sangat penting untuk dilakukan mengingat namanya angkutan umum sudah pasti membawa banyak orang.

"Kalau berkaca dari negara tetangga atau di Eropa, setiap pengemudi angkutan berat seperti bus transportasi umum, truk alat berat pasti sudah melewati tahapan uji kompetensi baru bisa memiliki SIM. Pengendara juga sudah dididik mengenai safety driving, seperti pengetahuan mengenai cara berkendara, prosedur atau teknik pengereman yang benar," kata Jusri.

(KOMPAS.com/ Stanly Ravel)

Editor: Yudhi Maulana Aditama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help