TribunBogor/

Tak Cuma Cari Untung, Ini Etika Pedagang Durian

Setelah pembeli setuju dengan durian yang telah dicoba, maka tawar menawar harga akan dilakukan.

Tak Cuma Cari Untung, Ini Etika Pedagang Durian
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
ILUSTRASI - Perdagangan durian di Pasar Induk Caringin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/01/2012) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Durian memang buah yang terbilang berbeda dibanding buah lainnya.

Tak seperti buah-buahan lain yang lebih banyak dibeli untuk dibawa pulang ke rumah, durian dapat dibawa pulang ke rumah atau justru makan langsung di tempat pedagang berjualan durian.

"Makan di sini apa dibawa pulang?" adalah kalimat yang sering dilontarkan kepada pembeli buah durian. Tetapi sebelum menyebutkan hal tersebut sebenarnya pedagang durian punya etika tak tertulis yang mirip di seluruh pedagang durian di Indonesia.

Salah satu etika tersebut adalah memberi konsumen durian terbaik.

"Biasa kita bukakan dulu sedikit durian, congkel dengan pisau kasih pembeli coba. Kalau suka kita buka semuanya. Kalau tak suka kita cari terus sampai pembelinya suka," kata penjual durian di Kalibata, Jakarta Selatan, Diroh, Kamis (13/4/2017).

Menurut Diroh, pembeli sebenarnya memiliki hak untuk mendapatkandurian paling manis dan sesuai selera dari penjual.

Setelah pembeli setuju dengan durian yang telah dicoba, maka tawar menawar harga akan dilakukan.


Salah satu stan durian lokal Semarang yang dikerubuti pengunjung dalam Semarang Festival Durian 2017, Sabtu (25/2/2017).(KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia)

Penjual durian di Indonesia memiliki dua cara menghitung harga durianyakni lewat bobot durian, atau dihitung satuan (per butir).

Di SentraDurian Kalibata, misalnya, durian dihitung berdasarkan jenis duriantersebut.

Durian montong umumnya dihitung per kilogram, sedangkan durianjenis lain dihitung per butir.

Halaman
12
Editor: Ardhi Sanjaya
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help