TribunBogor/
Home »

News

» Sains

Peneliti IPB Racik Minyak Ikan Sardin dan Cucut Kaya Omega-3 dan Squalen

Kandungan EPA, DHA dan squalene dalam minyak ikan sangat bermanfaat dalam bidang farmasi.

Peneliti IPB Racik Minyak Ikan Sardin dan Cucut Kaya Omega-3 dan Squalen
Humas IPB

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Minyak ikan sardin memiliki kandungan EPA yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan kandungan DHA.

Kandungan tersebut berbanding terbalik pada minyak ikan cucut, dimana kandungan DHA dan squalen merupakan komponen yang tinggi namun rendah EPA.

Kandungan EPA, DHA dan squalene dalam minyak ikan sangat bermanfaat dalam bidang farmasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Muhamad Musbah (Dosen Teknologi Hasil Perairan, FPIK, IPB), Dr. Sugeng Heri Suseno S.Pi M.Si dan Dr. Uju (Mahasiswa Teknologi Hasil Perairan, FPIK, IPB) bertujuan untuk memperkaya minyak ikan dengan omega-3 dan squalene serta meningkatkan kualitasnya.

Menurut hasil riset sebelumnya, minyak ikan sardin adalah produk hasil samping pengalengan yang mengandung omega-3 cukup tinggi yaitu EPA 15,54% dan DHA 6,41%. Minyak ikan sardin sebagai bahan baku produk minyak ikan memiliki kekurangan yaitu kandungan DHA yang rendah jika dibandingkan dengan kandungan DHA pada minyak ikan cucut.

Minyak ikan cucut (Centrophorus squamosus) mengandung DHA 25,05% dan rendah EPA 5,14%. Minyak ikan cucut juga mengandung squalene 83%, vitamin A dan D yang sangat baik bagi kesehatan.

Squalene memiliki fungsi yang sangat penting bagi tubuh manusia, yaitu untuk penguat stamina tubuh, menyembuhkan penyakit liver, kencing manis dan mencegah penyakit degeneratif. EPA dan DHA memiliki peranan penting yaitu untuk perkembangan otak, retina mata, peningkatan kekebalan, pencegahan penyakit degeneratif, membantu dalam pengembangan kejiwaan, pertumbuhan anak-anak usia dini, terutama bagi anak-anak penderita autism spectrum disorders.

"Minyak ikan memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan manusia sehingga mendorong inovasi produk minyak ikan dalam bentuk pangan fungsional atau pharmaceutical terus meningkat," ujar Muhammad Musbah.

Penelitian pengembangan kualitas minyak ikan yang telah dilakukan yaitu karakteristik dan kestabilan kombinasi minyak ikan sardin dengan habbatussauda, peningkatan kualitas minyak ikan dengan metode Degumming menggunakan asam sitrat dan garam hingga memenuhi standar pangan, kombinasi minyak ikan patin dan minyak sawit merah yang diaplikasikan ke bubur instan dan cookies.

"Kombinasi minyak ikan jambal dan kerapu untuk memenuhi standar rasio omega-3 dan omega-6 yang baik menurut WHO. Sehingga perlu adanya penerapan kombinasi minyak ikan sardin dan cucut yang sejauh ini belum pernah dilakukan," tuturnya.

Penelitian ini menggunakan kombinasi minyak ikan (sardin:cucut) 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 2:1, 3:1 dan 4:1 serta dilakukan uji anlisis asam lemak bebas (FFA), analisis bilangan peroksida (PV), penentuan nilai anisidin (p-AV), penentuan nilai total oksidasi (TOTOX), pentuan profil asam lemak dan analisis kandungan squalene.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi minyak ikan terbaik ditemukan pada rasio 1:4 (sardin:cucut) berdasarkan parameter total oksidasi yang memenuhi standar IFOS dengan kandungan omega-3 yaitu 8,55% dan squalene yaitu 43,16%. Minyak sardin jika banyak ditambahkan pada rasio kombinasi menghasilkan kandungan omega-3 yang semakin tinggi.

Penulis: Yudhi Maulana Aditama
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help