Peneliti IPB Temukan Vaksin Untuk Kekebalan Benih Ikan Mas

Penyakit ini disebabkan oleh cyprinid herpesvirus-3 (CyHV-3) atau dikenal sebagai carp interstitial nephritis and gill necrosis virus (CNGV).

Peneliti IPB Temukan Vaksin Untuk Kekebalan Benih Ikan Mas
Pixabay
Ikan mas 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Mahasiswa Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor (SPS IPB), Asep Akmal Aonullah meneliti efikasi vaksin DNA koi herpervirus (KHV) terhadap infeksi KVH pada budidaya ikan mas (Cyprinus carpio) skala lapang dengan kepadatan berbeda.

Penelitian ini dibimbing Dr Sri Nuryati, Dr Alimuddin dan Dr Drh Sri Murtini.

Penelitian ini dilakukan selama satu tahun bertempat di Laboratorium Departemen Budidaya Perairan , Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.

Latar belakang penelitian Asep karena ikan mas menjadi salah satu komoditas yang mengadapi epidemi serius kemunculan koi herpervirus (KHV).

Penyakit ini disebabkan oleh cyprinid herpesvirus-3 (CyHV-3) atau dikenal sebagai carp interstitial nephritis and gill necrosis virus (CNGV).

Penyakit ini menyebabkan kematian 80 persen ikan.

Di Indonesia wabah penyakit ini menyebar dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar pada industri budidaya.

Siaran pers Humas IPB menyebutkan, sampai saat ini langkah pencegahan KHV masih dilakukan mengingat sifat virus yang mampu bertahan dalam jangka waktu lama.

Vaksinasi menjadi langkah strategis dalam upaya pencegahan KHV, mengingat tidak adanya terapi atau pengobatan yang efektif dan spesifik terhadap virus ini.

"Vaksin DNA dapat dijadikan sebagai alternatif solusi karena mampu memperbaiki beberapa kelemahan vaksin konvensional (vaksin hidup dan vaksin mati)," ujar Asep Akmal.

Dia menjelaskan, kelebihan vaksin DNA diantaranya mampu mengaktivasi baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral, memberikan proteksi yang baik apabila diberikan pada studium awal, waktu induksi yang singkat dan memberi proteksi dalam jangka waktu yang lama.

Selain itu juga mampu memberikan proteksi baik dalam suhu rendah maupun tinggi, tidak menyebabkan antimedikasi pada ikan dan dampak kontaminasi pada air.

Lebih lanjut kata Asep, penelitian mengenai aplikasi vaksin DNA melalui metode perendaman dengan pendekatan skala produksi perlu dilakukan untuk memperoleh informasi kepadatan optimal vaksinasi dan sejauh mana vaksin tersebut efektif terhadap infeksi KHV.

Penelitian dilakukan dengan menguji ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih ikan mas varietas Majalaya berumur 20 hari pascatetas (hpt) yang diperoleh dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat.

Screening status kesehatan ikan uji dilakukan selama masa aklimatisasi, dan konfirmasi ikan terbebas dari KHV dilakukan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR).

Perlakuan kepadatan yang digunakan adalah 800 ekor/L (V8) dan 1200 ekor/L (V12).

Penelitian ini menggunakan dosis vaksin DNA anti-KHV tertentu selama 30 menit, dan sebagai kontrol yang tidak divaksin.

Parameter uji yang diamati meliputi kelangsungan hidup, kelangsungan hidup relatif, laju pertumbuhan harian, aktivitas fagositik dan titer antibodi.

Hasil penelitian menunjukkan, aplikasi vaksin DNA KHV whole cell bacteria melalui metode perendaman sebanyak 1×30 menit dengan kepadatan 800 ekor/L menunjukkan hasil optimal dalam meningkatkan respons imunitas benih ikan mas terhadap infeksi KHV.(*)

Penulis: Soewidia Henaldi
Editor: Soewidia Henaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help