TribunBogor/
Home »

Bisnis

» Mikro

Banyak Pengusaha Makanan Singkong Kaya, Tapi Petaninya Masih Miskin

sejumlah pabrik pengolahan tepung tapioka banyak yang gulung tikar karena harga pengolahan dari singkong

Banyak Pengusaha Makanan Singkong Kaya, Tapi Petaninya Masih Miskin
TribunnewsBogor.com/Damanhuri
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Masyarakat Singkong, Suharyo Husen 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Damanhuri

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Petani singkong di Indonesia saat ini masih terbilang miskin.

Hal ini disebabkan tingginya impor tepung tapioka dari negera tetangga ke Indonesia.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Masyarakat Singkong, Suharyo Husen.

Husen mengaku prihatin melihat nasib para petani singkong dalam negeri.

Menurut Husen, harga singkong di Indonesia rata-rata antara Rp 400 sampai Rp 500 per kilogram dibeli dari petani untuk keperluan industri.

"Paling tinggi singkong di petani Indonesia itu hanya Rp 700 per kilogram," ujarnya disela kegiatan workshop peran riset dan kebijakan untuk untuk rantai nilai ekonomi ubi kayu Indonesia di Gedung Bioteknologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (7/9/2017).

Husen melanjutkan, sejumlah pabrik pengolahan tepung tapioka banyak yang gulung tikar karena harga pengolahan dari singkong memakan biaya cukup tinggi terlebih setelah kenaikan harga minyak dunia.

"Mereka memilih import tapioka yang sudah jadi dari negara Thailand dan Vietnam, karena harganya lebih murah hanya Rp 4000 perkilogram," kata dia.

Pihaknya berharap, pemerintah bisa kembali meningkatkan harga jual ubi kayu agar petani singkong dalam negeri lebih sejahtera.

Terlebih, kata dia, dalam satu tahun para petani singkong ini hanya bisa satu kali pamem sebab tanaman singkong baru bisa dipanen setelah berusia antara 10 bulan hingga satu tahun.

"Memang lama panennya, terus sekalinya dijual ke pabrik pun harganya sangat murah," tukasnya.(*)

Penulis: Damanhuri
Editor: Soewidia Henaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help