TribunBogor/

Nyamar Jadi Pria Hidung Belang, Pejabat Ini Ditawari PSK di Bawah Umur di Puncak

Tak berapa lama, mucikari membawa Herman ke lokasi perumahan di wilayah Ciloto-Puncak untuk memilih wanita yang diinginkan.

Nyamar Jadi Pria Hidung Belang, Pejabat Ini Ditawari PSK di Bawah Umur di Puncak
Kompas.com
Ilustrasi 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, mengamankan tujuh orang anak di bawah umur yang dijual sebagai pekerja seks komersil di kawasan wisata Puncak-Cipanas.

Sebelumnya Herman sempat melakukan penyamaran dan melakukan transaksi dengan mucikari yang biasa mangkal di tempat keramaian di wilayah Puncak, Kamis (14/9/2017).

Tak berapa lama, mucikari membawa Herman ke lokasi perumahan di wilayah Ciloto-Puncak untuk memilih wanita yang diinginkan.

"Banyak modus yang mereka gunakan dari bermobil sampai menyimpan PSK di satu rumah di komplek perumahan, bukan lagi di lokalisasi. Saya terkejut saat sampai di lokasi karena sebagian besar wanita yang dijajakan masih di bawah umur," tuturnya.

Tim yang mengikuti kendaraan Herman, langsung menangkap mucikari dan mengamankan tujuh orang perempuan di bawah umur itu ke Kantor Satpol PP Cianjur untuk didata dan diberikan pembinaan.

"Meskipun sudah beberapa kali dirazia secara acak, jumlah PSK dan mucikari yang kami amankan terus bertambah. Kami akan gencar melakukan hal yang sama sampai paktik prostitusi di Cianjur hilang. Termasuk merazia tempat penjualan miras berkedok depot jamu," katanya.

Sementara tim lain yang disebar di wilayah kota Cianjur, menjaring 20 perempuan dari sejumlah lokasi, sebagian besar wajah lama yang sudah berkali-kali dirazia. Mereka yang terjaring akan diberikan pembinaan dan rehabilitasi di sukabumi.

"Cianjur harus agamis, apalagi dengan program Cianjur anti maksiat. Kami akan terus melakukan razia di berbagai lokasi agar tidak ada lagi PSK berkeliaran," tutupnya.

(Berita ini sudah dipublikasikan di Kompas.com dengan judul 7 Anak yang Dijual sebagai PSK di Puncak Diamankan)

Editor: Yudhi Maulana Aditama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help