TribunBogor/
Home »

Bogor

Ketua Yayasan Sebut Pembubaran Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud Tak Mendasar

Ia menjelaskan bahwa pesantrennya itu berbeda dengan pesantren-pesantren lainnya, karena pihaknya mendidik anak-anak yang orang tuanya bermasalah.

Ketua Yayasan Sebut Pembubaran Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud Tak Mendasar
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Ketua Yayasan Ibnu Mas'ud, Agus Purwoko 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, TAMANSARI - Pengurus pesantren Ibnu Mas'ud menolak untuk dibubarkan lantaran pembubaran tersebut dinilai tidak mendasar.

Demikian yang diungkapkan oleh Ketua Yayasan Ibnu Mas'ud, Agus Purwoko dalam jumpa persnya di Pesantren Ibnu Mas'ud, di Kampung Jami, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Minggu (17/9/2017).

"Untuk pembubaran, kami sangat menolak permintaan dari pihak mana pun, kami tetap bertahan," jelas Agus ketika ditemui TribunnewsBogor.com, Minggu(17/9/2017).

Ia menjelaskan bahwa desakan untuk penutupan pesantrennya itu adalah hal yang tidak mendasar, klaim yang sepihak, klaim yang penuh emosi, serta tanpa komunikasi langsung dengannya selaku ketua yayasan.

Dimana menurutnya, persetujuan pembubaran yang sebelumnya dilakukan, justru ditandatangani oleh tiga orang pengurus yang bukan pengurus inti terlebih hal itu diakui dilakukan di bawah tekanan.

"Saya bisa memberikan kalrifikasi, terkait apa yang dituduhkan, adapun yang terjadi diluar jangkauan kami seperti orangtua santri yang terlibat masalah hukum, atau pun tindak kriminal, itu adalah urusan mereka, bukan urusan manajemen kami," katanya.

Ia menjelaskan bahwa pesantrennya itu berbeda dengan pesantren-pesantren lainnya, karena pihaknya mendidik anak-anak yang orang tuanya bermasalah.

"Jadi pesantren ini fokusnya menitipkan anak yang orangtuanya bermasalah, ini tidak diketahui oleh umum, seperti permasalahan keluarganya terkait ekonomi, atau tersandung masalah hukum, kriminal atau teroris atau apa aja," jelasnya.

Ia mengaku anak-anak tersebut bakal ia didik sesuai kemampuan pesantren tersebut yakni Tahfidz Qur'an dan setelah itu si anak akan kembali dijemput pihak keluarganya yang rata-rata tidak lama seperti santri biasanya.

"Sebulan, 2 bulan diambil orang tuanya, ada yang setahun, ada yang setengah tahun, tergantung kebutuhan orang tuanya," ujarnya.

Maka dari itu, Agus mengaku ke depannya ia bakal meregenerasi manajemen pesantrennya itu agar lebih baik.

"Salahnya saya, saya tidak punya orang untuk menjelaskan kepada masyarakat, seharusnya saya punya orang yang bisa bersilaturahmi kepada seluruh jajaran, nanti kedepan saya tunjuk beberapa orang untuk melakukan tugas itu," katanya.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help