TribunBogor/
Home »

Metro

Pemakai Narkoba Suntik dan Hemodialisa Beresiko Terinfeksi Hepatitis C

pemakai narkoba suntik dan hemodialisa rata-rata terinfeksi hepatitis C karena penggunaan alat yang dilakukan berulang

Pemakai Narkoba Suntik dan Hemodialisa Beresiko Terinfeksi Hepatitis C
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) menggelar pelatihan tentang bahaya penyakit hepatitis C, Sabtu (4/11/2017). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Hepatitis C merupakan penyakit yang menyerang hati, hal itu diutarakan oleh Ketua Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Dr Irsan Hasan saat mengisi pelatihan tentang Hepatitis C yang digelar Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI).

"Penyakit ini bersifat akut dan kronik serta dapat mengakibatkan sirosis pengerasan hati dan kanker hati," katanya.

Ihsan juga menjelaskan bahwa pemakai narkoba suntik dan hemodialisa rata-rata terinfeksi hepatitis C karena penggunaan alat yang dilakukan berulang

Selain itu penulan hepatitis C juga bisa disebabkan oleh banyak faktor.

"Korban berisiko tinggi terinfeksi hepatitis C penularannya karena faktor keluarga pengidap hepatitis C (13,83 persen), pasca operasi (8,54 persen), hubungan seks tidak aman (7,51persen), tranfusi darah (6,84 persen), tato atau tindik (5,89 persen), tenaga kesehatan (4,42persen), dan transplantasi organ (0,37persen)," katanya.

Sementara itu Healt Advocacy Officer PKNI Andika P Wibaskara mengatakan bahwa pengidap penyakit hepatitis C kini sudah bisa menjalani pengobatan hingga sembuh.

"Iya terlebih saat ini Kementerian Kesehatan melalui Subdit Hepatitis C dan Gangguan Saluran pencernaan membuat program 6000 paket pengobatan gratis untuk hepatitis C," katanya.

Andika mengatakan bahwa pengidap penyakit ini ataupun mereka yang terindikasi hepatitis C bisa dengan mudah memeriksakan diri dan mendapat pengobatan.

Karena saat ini Kemenkes juga memiliki program deteksi dini Hepatitis C.

"Kemeskes melalui subdit lagi membuat program deteksi dini hepatitis c di puskesmas, kalau terindikasi di rujuk agar bisa mendapat DAA, obatnya gratis tes darah gratis, kecuali tes darah lengkap,"katanya Sabtu (4/11/2017) usai acara pelatihan.

Sementara itu Jul seorang yang mengidap hepatitis C dan sudah menjalani program dan mengakses beberapa obat mengatakan bahwa kini keadaannya sudah lebih membaik.

Bahkan menurutnya Jul menjalani pengobatan hepatitis C menggunakan jaminan kesehatan BPJS.

"Awalnya memang melalui perjalanan panjang karena belum tau alurnya dan sekarang sudah mengerti pengobatan hepatitis C menggunakan BPJS Alhamdulillah saya gratis.(*)

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Soewidia Henaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help