Kronologis Pembacokan Petani Durian yang Disangka Ustaz, Berawal Dari Menawar Harga Durian

kejadian tersebut berawal ketika pelaku, korban, dan adik korban tengah berada di Kebun Durian.

Kronologis Pembacokan Petani Durian yang Disangka Ustaz, Berawal Dari Menawar Harga Durian
istimewa

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Mohamad Afkar Sarvika

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Kepala Desa Banyu Asih, Mudis Sunardi menegaskan bahwa, korban penbacokan pada Selasa (6/2/2018) bukanlah seorang Ustad.

Mudis menjelaskan, korban bernama Sulaiman warga Desa Banyu Asih, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor adalah seorang petani durian.

"Perlu diluruskan, kejadiannya sekira pukul 06.00 WIB dan bukan ustad," ucapnya kepada awak media, Kamis (8/2/2018).

Dijelaskannya bahwa korban masih memiliki hubungan keluarga dengan pelaku yang disinyalir mengidap gangguan jiwa.

"Sudah diselesaikan secara kekeluragaan, sekaran korban sedang dirawat di rumah sakit," katanya.

Lebih lanjut Mudis mengatakan, kejadian tersebut berawal ketika pelaku, korban, dan adik korban tengah berada di Kebun Durian.

Saat itu, pelaku menawar harga durian dengan harga yang sangat murah yakni Rp 5 ribu per buah.

Namun adik korban yang menyangka pelaku tengah bercanda itu pun mengatakan bahwa harga durian per buah sebesar Rp 30 ribu.

"Adik korban mengira hanya iseng-iseng aja karena si pelaku dikenal sebagai orang gila. Namun, tiba-tiba pelaku pulang dan mengambil golok dan terjadilah pembacokan," paparnya.

Sementara itu, Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky menambahkan, pihaknya akan tetap melakukan pemeriksaan terhadap pelaku termasuk pemeriksaan kejiwaannya.

Apabila pelaku benar-benar mengalami gangguan kejiwaan maka dia tidak bisa dituntut secara hukum ditambah dengan korban menandatangani surat pernyataan penyelesaian dengan kekeluargaan.

"Tapi kami tetap melakukan proses terhadap kasus ini agar ada kepastian hukumnya dan dapat diputuskan apakah kasus ini akan dilanjutkan atau tidak. Karena Tercantum di KUHP bahwa orang yang mengidap gangguan kejiwaan memang tidak bisa dituntut secara hukum," urainya.

Penulis: Mohamad Afkar Sarvika
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help