BI Akui Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Melemah, Ini Penyebabnya

Namun, kata Agus angka itu relatif lebih rendah dari dolar Singapura yang terdepresiasi -1,17 persen

BI Akui Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Melemah, Ini Penyebabnya
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Uang dollar Amerika Serikat dan rupiah di sebuah bank nasional di Jakarta, beberapa waktu lalu 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih lebih rendah jika dibandingkan dengan depresiasi beberapa mata uang lain di Asia.

Diakui Agus, pelemahan nilai tukar melanda tidak hanya negara-negara di kawasan, melainkan juga dialami oleh negara-negara maju.

“Penguatan dolar AS dampak dari berlanjutnya kenaikan suku bunga obligasi negara AS hingga mencapai 3,03 persen, tertinggi sejak tahun 2013,” kata Agus saat jumpa pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (26/4/2018).

Selain itu, kata Agus, depresiasi rupiah juga terkait faktor musiman permintan valas yang meningkat pada triwulan II antara lain untuk keperluan pembayaran Utang Luar Negeri, pembiayaan impor, dan dividen.

Rupiah memang depresiasi sebesar -0,88 persen secara month to date.

Namun, kata Agus angka itu relatif lebih rendah dari dolar Singapura yang terdepresiasi -1,17 persen, baht Thailand yang melemah -1,12 persen, Ringgit Malaysia terdepresiasi -1,24 persen, won Korea Selatan terdepresiasi -1,38 persen dan rupee India terdepresiasi -2,4 persen.

“Jadi kalau seandainya ada batas psikologis bahwa Rp 13.900 tembus, Rp 14.000 tembus kayaknya menembus bilangan besar, padahal seara persentase, depresasi Indonesia tidaklah besar,” pungkas Agus.

Dia juga membeberkan, fundamental perekonomian dalam negeri cukup kuat. Hal itu terlihat dari inflasi masih sesuai dengan kisaran 3,5+1 persen, defisit transaksi berjalan lebih rendah dari batas aman 3 persen PDB.

Kepercayaan asing juga terus membaik yang tercermin pada upgrade rating Indonesia oleh Moody’s, JCRA, dan R&I serta dimasukkannya obligasi negara ke dalam Bloomberg Global Bond Index.

(Tribunnews.com/Syahrizal Sidik)

Editor: Damanhuri
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help