Oknum Guru yang Cabuli Belasan Murid di Depok Ternyata Pernah Jadi Korban

Kapolresta Depok, Kompol Didik Sugiarto mengungkapkan karena pencabulan yang dialaminya itu, WAR memiliki trauma masa lalu.

Oknum Guru yang Cabuli Belasan Murid di Depok Ternyata Pernah Jadi Korban
TribunJakarta.com/Bima Putra
Kapolresta Depok Kombes Pol Didik Sugiarto saat memberikan keterangan di Pancoran Mas, Depok, Jumat (8/6/2018) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - WAR (23) guru honorer di salah satu SDN di Depok yang telah mencabuli belasan siswa lelaki, anak didiknya, mengaku ia pernah menjadi korban pencabulan lelaki dewasa saat masih anak-anak.

Karenanya guru pria yang mengajar Bahasa Inggris itu menjadi memiliki hasrat seksual terhadap anak lelaki saat dewasa.

Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6).
Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6). (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

"Karenanya, saya juga meminta agar semua siswa yang pernah menjadi korban saya berterus terang dan cerita ke orangtua. Gak usah takut, cerita saja, supaya nanti tidak jadi pelaku pelecehan seperti saya," papar WAR saat dihadirkan dalam jumpa pers di Mapolresta Depok, Jumat (8/6/2018).

Kapolresta Depok, Kompol Didik Sugiarto mengungkapkan karena pencabulan yang dialaminya itu, WAR memiliki trauma masa lalu.
Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6).
Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6). (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

"Tersangka pernah menjadi korban perbuatan cabul, dan akhirnya dia beralasan karena itulah tertarik melakukan perbuatan cabul ke anak lelaki," kata Didik.

Menurut Didik dari hasil penyelidikan sementara diketahui WAR yang mengajar bahasa Inggris, sudah melakukan pencabulan terhadap para siswa pria di sekolah itu sejak 2016.

Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6).
Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6). (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Sampai saat ini katanya Polresta Depok berhasil mengidentifikasi ada 13 siswa korban WAR sejak 2016..

"Sejak 2016 sampai saat ini, ada 13 korban yang teridentifikasi menjadi korban cabul pelaku. Pencabulan terjadi dilakukan di lingkungan sekolah. Ada yang di ruang kelas, perpustakaan, ruangan sekolah lainnya, serta di luar sekolah dilakukan di kolam renang, dimana pelaku mengajak korban ke sana," kata Didik, di Mapolresta Depok, Jumat (8/6/2018).

Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6).
Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6). (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Menurut Didik, pelaku mencabuli para korbannya dengan disertai ancaman.

"Apabila tak mau mengikuti kemauan pelaku, maka nilai bahasa Inggrisnya diancam jadi jelek. Bila mau, nilai bahasa Inggris tinggi," katanya.

Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6).
Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6). (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Ia mengatakan pihaknya masih terus mendalami kasus ini terutama jumlah siswa korban WAR.

Sebab nantinya siswa korban WAR akan diberikan bimbingan dan pendampingan psikologis, agar apa yang menimpa mereka tidak mempengaruhi perkembangan psikologis mereka ke depannya.

Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6).
Pelaku pencabulan saat dihadirkan di Mapolresta Depok, Jumat (8/6). (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Sementara pelaku kata Didik, diancam dengan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dimana dalam UU tersebut ancaman hukuman pelaku pencabulan anak bisa mencapai 15 tahun penjara.

(Tribunnews.com/ Budi Sam Law Malau)

Editor: Yudhi Maulana Aditama
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved