Home »

News

» Sains

Suhu Dingin di Indonesia Akibat Aphelion Hoax, Ini Penjelasan Dosen IPB

Pada bidang petanian, embun beku cukup merugikan bagi petani karena dapat menyebabkan rusaknya tanaman d an gagal panen.

Suhu Dingin di Indonesia Akibat Aphelion Hoax, Ini Penjelasan Dosen IPB
grid.id
kolase 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Suhu dingin yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia belakangan ini bukan disebabkan oleh fenomena aphelion, seperti berita hoax yang banyak beredar di masyarakat.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM) Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB),  Dr. Akhmad Faqih mengatakan bahwa aphelion tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap varia si penurunan suhu di wilayah Indonesia.

Sebenarnya aphelion merupakan jarak terjauh dari gerakan bumi mengelilingi matahari yang rutin terjadi setiap tahunnya. Di waktu yang bersamaan, Indonesia berada pada musim kemarau.

Penurunan suhu dingin lebih disebabkan oleh kondisi cuaca Indonesia yang sedang berada di puncak musim kemarau dimana posisi matahari berada di belahan bumi utara dan aktifnya monsun Asia.

Pada puncak musim kemarau tersebut, kondisi sebaliknya terjadi di wilayah Australia yang tidak banyak menerima radiasi matahari seintensif bulan Desember, Januari, dan Februari.

Sehingga Australia mengalami musim dingin dan menjadi pusat tekanan rendah.

“Dengan melihat prinsip bagaimana angin bergerak, dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, Australia yang sedang mengalami musim dingin maka akan menjadi pusat tekanan tinggi, udaranya lebih cenderung kering dan bergerak melewati Indonesia. Hal itu yang banyak mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia saat ini,” terang Dr. Akhmad yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pakar Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI) serta Kepala Bidang Kajian Strategis Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB.

Saat ini, radiasi gelombang panjang yang dilepaskan cenderung tidak ditahan atmosfer karena sedikitnya awan dan kondisi cerah, sehingga efek pemanasan berkurang dan suhu menjadi dingin.

Berbeda saat musim hujan, ketika banyak awan di atmosfer maka radiasi balik khususnya gelombang panjang tertahan dan dipantulkan balik ke bumi sehingga menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sendiri, penurunan suhu yang terjadi, sebagai contoh di Bandung, tidak terlalu ekstrem dan masih dalam konteks kondisi yang normal.

Halaman
12
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help