Puluhan Hektare Sawah Di Cigombong Mengering, Petani Merugi Hingga Miliaran Rupiah

Ia menjelaskan bahwa 1 hektar sawah di Desa Ciburuy bisa memproduksi 5 sampai 7 ton padi dalam satu musim.

Puluhan Hektare Sawah Di Cigombong Mengering, Petani Merugi Hingga Miliaran Rupiah
SERAMBI/ZAKI MUBARAK
ILUSTRASI -- Sawah milik petani kekeringan dikawasan Mane Kareung, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Kamis (27/7/2017). Sejak sepekan beberapa areal sawah dalam kota Lhokseumawe mengalami kekerigan sehingga membuat petani tidak bisa menanam. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIGOMBONG - Sulitnya air untuk pesawahan di Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor membuat petani merugi hingga miliaran rupiah.

Pasalnya, diakui Kepala Bidang SDM Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Silih Asih, Muhammad Supriatna, kondisi tersebut sudah dialami lebih dari 1,5 tahun lamanya.

Selama itu, kata dia, petani sulit sekali untuk menanam padi.

"Udah 1,5 tahun lebih, sekarang juga kemaraunya tinggi," kata Supriatna kepada TribunnewsBogor.com, Jumat (10/8/2018).

Ia menjelaskan bahwa 1 hektar sawah di Desa Ciburuy bisa memproduksi 5 sampai 7 ton padi dalam satu musim.

Hingga hari ini, lanjut dia, para petani sudah tak lagi menanam padi dalam 3 musim.

"Satu hektare biasanya panen itu standarnya di wilayah sini itu 5 sampai 7 ton, sekarang harga kisaran Rp 3.000 sampai Rp 3.700, jadi kalau dikalikan itu sekitar Rp 1 Milyar satu musim, sedangkan 1,5 tahun itu udah termasuk 3 musim," kata Supriatna.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang SDM Gapoktan Silih Asih, Muhammad Supriatna, mengatakan bahwa sawah yang tak dialiri air itu diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare.

"Itu perkiraan ya, kisaran 50 hektare lah, awal-awal dulu ada jalan tol, aliran irigasinya diputus waktu itu, awalnya dari situ, sekarang musim kemarau, jadi kami tuh di sini udah gak bisa nanam padi," kata Supriatna kepada TribunnewsBogor.com.

Ia menjelaskan bahwa kondisi itu sudah dirasakan para petani lebih dari 1,5 tahun lamanya.

"Ada yang masih bisa ditanami, kita tanami dengan palawija, itu pun agak gitu lah (kurang maksimal)," ungkapnya.

Ia berharap ada solusi terbaik dari pemerintah untuk mengatasi kesulitan air tersebut, karena pihaknya juga sudah melakukan sejumlah solusi tapi tak membuahkan hasil.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help