Dinilai Terkesan Melecehkan, Ketua Kowani Tolak Istilah 'Emak-Emak' dan Ingin Dipanggil Ibu Bangsa

Giwo menyatakan ' Ibu Bangsa' merupakan hasil kongres perempuan Indonesia yang digelar dengan penuh perjuangan pada tahun 1935.

Editor: Yudhi Maulana Aditama
Youtube/Kementrian Sekretariat Negara RI
Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo tidak sepakat jika perempuan Indonesia disebut dengan 'emak-emak'. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo kembali menegaskan bahwa istilah " Emak-emak" terkesan melecehkan untuk panggilan seorang perempuan.

Istilah ini cenderung hanya sebagai bahan guyonan tanpa makna yang luhur.

"Emak-emak kesannya melecehkan, karena kita (perempuan) ibu bangsa sejati sebagai tokoh bangsa, istilah itu hanya candaan, humor, nuansa pupuler, kita enggak bisa sebagai perempuan dilecehkan," ungkap Giwo, usai menutup Kongres Dewan Perempuan Internasional (ICW) di Borobudur, Magelang, Rabu (19/9/2018) sore.

Giwo menyatakan ' Ibu Bangsa' merupakan hasil kongres perempuan Indonesia yang digelar dengan penuh perjuangan pada tahun 1935.

Tugas perempuan saat ini,lanjut Giwo, adalah bagaimana meneruskan perjuangan perempuan-perempuan menuntut hak sekaligus ikut terlibat dalam pembangunan bangsa.

"Ibu bangsa lahir dari kongres perempuan 1935, bahwa perempuan Indonesia harus jadi ibu bangsa. Kowani lahir tahun 1928 mendapat amanah untuk ikut meningkatkan harkat martabat kaum peremuan, yakni berkarakter dan membela negara," tandasnya.

TGB Ungkap Pilihan Politik Ustaz Abdul Somad dan Aa Gym : Tidak Perlu Ditarik-tarik Harus ke Mana

"Sudah lebih 90 tahun (setelah kongres perempuan 1935), apa yang sudah kita perbuat untuk perempuan Indonesia," sambung Giwo.

Menurutnya, meski saat ini seloroh ' emak-emak' makin populer untuk menyebut perempuan, Kowani tetap berpegang pada konsep 'ibu bangsa'.

Konsep ini yang harus diaplikasikan baik sebagai individu, ibu, istri, maupun sebagai anggota dalam masyarakat.

"Kita ingin punya peran bagi lingkungan, sekecil apapun punya arti bagi bangsa, menjadi kebanggan dan role model. Jangan panggil kita Emak-emak tapi Ibu Bangsa," ujarnya.

Sebelumnya, Giwo menyatakan penolakan penggunaan istilak 'The Power of Emak-emak' yang banyak ditujukan kepada kaum perempuan Indonesia.

Penolakan itu disampaikan Giwo saat memberikan sambutan dalam pembukaan International Council of Women ke-35 di Yogyakarta, Jumat (14/9/2019). Kongres itu juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sejumlah pihak menilai Giwo menyatakan penolakan itu karena ada Jokowi di kongres tersebut.\

Sudjiwo Tedjo Ungkap Penelitian Doktor di London: Ahok Jatuh Bukan Karena Isu Agama Tapi Keadilan

Namun Giwo menampik pendapat tersebut.

Ia menegaskan Kowani tidak boleh berpolitik praktis. Kowani murni berisi aktivis-aktivis perempuan dari berbagai elemen, mulai pengusaha, Bhayangkari, Persit hingga akademisi dan lainnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved