Sopir Angkot dan Pedagang Dijalur Puncak Pilih Sistem Ganjil Genap Dibanding One Way, Ini Alasannya

Ia menambahkan, sistem satu arah membuat ia harus menunggu terlebih dahulu bila ingin ke arah Cisarua ataupun turun ke arah Ciawi

Sopir Angkot dan Pedagang Dijalur Puncak Pilih Sistem Ganjil Genap Dibanding One Way, Ini Alasannya
TribunnewsBogor.com/Sachril Agustin Berutu
Angkot melintas di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Sachril Agustin Berutu

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, MEGAMENDUNG - Rencana sistem ganjil genap di kawasan puncak mendapat respon dari para sopir angkutan kota (angkot) yang setiap hari melintas diruas jalan tersebut.

Sebagian besar sopir setuju aturan sistem ganjil genap ketimbang sistem one way atau satu arah diterapkan di jalur wisata puncak saat akhir pekan.

Mereka berpendapat jika sistem ganjil genap kendaraan tetap bisa melintas dari kedua arah berbeda dengan sistem one way yang hanya satu arah.

Seorang supir angkot 02A jurusan Cisarua - Sukasari, Iwan mengatakan, pemberlakukan sistem satu arah dikawasan puncak membuat pendapatannya menurun.

"Sabtu dan minggu atau hari libur diterapkan sistem one way. Saya yang biasanya bisa 2 atau 3 rit di hari biasa, karena sistem satu arah, jadi 1 rit saja," katanya, di jalan raya Puncak, dekat jembatan Gadog, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Kamis (11/10/2018).

Ia menambahkan, karena sistem satu arah, dirinya harus menunggu terlebih dahulu bila ingin ke arah Cisarua ataupun turun ke arah Ciawi.

"Kalau sistem satu arah ini, pendapatan saya bisa menurun sekira 50 sampai 70 persen bila dibandingkan hari biasa. Soalnya menunggu kan," jelasnya.

Hal senada dikatakan Jajat , sopir angkot lainnya yang lebih setuju penggunaan sistem ganjil genap diberlakukan dari pada sistem satu arah dikawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

"Mau naik ke atas atau turun kan harus nunggu lama. Makanya kadang saya malas narik kalau sistem satu arah. Lebih baik sistem ganjil genap, kan hanya kendaraan pribadi saja," ungkapnya

Senada dikatakan Udin, pedagang dijalur wisata puncak.

Warga Kampung Cibogo RT 05 RW 03 Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor berujar jika saat proses one way pengendara jarang sekali yang mampir ke warungnya.

"Saya kan buka warung di pinggir jalan. Karena sistem one way dan macet parah, pengendara malas berhenti. Pendapatan saya menurun kalau lagi diterapkan sistem ganjil genap," jelasnya.

Penulis: Sachril Agustin Berutu
Editor: Damanhuri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help