Menilik Seputar Sistem Ekonomi Pancasila Pasca Indonesia Merdeka

Pelaksanaan sistem ekonomi pancasila sendiri dianggap kurang mencerminkan prinsip perekonomian dari rakyat dan untuk rakyat.

Menilik Seputar Sistem Ekonomi Pancasila Pasca Indonesia Merdeka
Tribunnews/JEPRIMA
Petugas jasa penukaran uang asing saat menghitung pecahan Rp 100.000 di PT Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS melemah dan menyentuh Rp 13.761 per Dolar AS. Tribunnews/Jeprima 

DALAM urusan kenegaraan yang tidak terlepas dari sosial, budaya, ekonomi, dan politik terbentuklah sebuah sistem yang tidak jarang dijadikan sebagai ideologi bangsa suatu negara.

Sistem ini dapat berlaku di setiap aspek maupun perpaduan dari kedua aspek. Salah satu sistem yang terbentuk dari dua aspek di suatu negara adalah sistem ekonomi politik.

Ternyata ideologi yang dianut suatu negara mampu memengaruhi sistem perekonomiannya.

Sepertipada masa perang dingin antara dua negara adidaya di Perang Dunia II yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet yang memiliki perbedaan ideologi dan sistem ekonomi yang dianutnya.

Amerika Serikat yang menganut ideologi liberal sedangkan Uni Soviet dengan ideologi komunismenya.

Di Indonesia sendiri, sistem ekonomi politik sudah beberapa kali mengalami perubahan.

Dimulai zaman orde lama, saat pemerintahan Presiden Soekarno sistem perekonomian yang berlaku di Indonesia merupakan sistem perekonomian tertutup yang sama sekali tidak melibatkan keberpihakan luarnegeri khususnya barat.

Barulah saat masa kepemimpinan PresidenSoeharto, zaman orde baru, dikeluarkanlah UU No. 1 Tahun 1967 tentang PMA atau penanaman modal asing yang artinya Indonesia mulai menganut sistem ekonomi liberal dengan didukung kebijakan-kebijakan ekonomi yang melibatkan keberpihakan luarnegeri dalam perekonomian Indonesia.

Dan pada masa reformasi hingga saat ini Indonesia menganut sistem ekonomi pancasila.

Pelaksanaan sistem ekonomi pancasila sendiri dianggap kurang mencerminkan prinsip perekonomian dari rakyat dan untuk rakyat.

Halaman
123
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved