Kartu untuk Bus Sekolah Dinilai Akan Menimbulkan Kecemburuan Antar Siswa di Kota Bogor

Terlebih Politisi PDIP itu pun menyebutkan bahwa saat dilaunching bus sekolah bukan dinaiki oleh siswa yang kurang mampu.

Kartu untuk Bus Sekolah Dinilai Akan Menimbulkan Kecemburuan Antar Siswa di Kota Bogor
Dokumentasi Humas Pemkot Bogor
Bima Arya selfie dengan peljar saat peluncuran bus sekolah 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Bogor Atty Somaddikarya menilai penerapan kartu khusus untuk naik bus sekolah sangat tidak efektif.

Peluncuran bus sekolah oleh Pemerintas Kota Bogor dinilai tidak efektif dan bahkan menimbulkan kecemburuan diantara pelajar.

Kondisi itu dikarenakan Disdik Kota Bogor hanya memberikan tiga hingga empat kartu kepada setiap sekolah di Kota Bogor sebagai akses untuk bisa naik bus sekolah gratis.

"Busnya hanya ada dua, satu yang kapasitasnya 40 orang, kemudian satu lagi yang kapasitasnya 15, menurut saya ini akan menimbulkan kecemburuan ketika siswa tidak menerima kartu tersbut, sementara untuk naik bus itu harus pakai kartu," katanya Senin (28/1/2019) ketika ditemui disekitar Jalan Ahmad Yani, Kota Bogor.

Terlebih Politisi PDIP itu pun menyebutkan bahwa saat dilaunching bus sekolah bukan dinaiki oleh siswa yang kurang mampu. 

"Kalau bus ini bagi siswa kurang mampu yang saya lihat kemarin ada di media sosial mereka bukan pelajar kurang mampu, yang terlihat dari kasat mata saja tapi ini menjadi asumsi ya bahwa masyarakat yanh naik merupakan orang mampu karena siswa siswinya menggunakan handhpone yang cukup canggih, tapi itu bukan menjadi persoalan tapi menurut saya ini akan menimbulkan kecemburuan ketika siswa tidak menerima kartu tersbut," katanya.

Atty juga menegaskan bahwa lebih baik pemerintah Kota Bogor membuat kebijakan ataupun menginterfensi sekolah agar tidak menahan ijazah para siswa.

Karena menurutnya hingga saat ini banyak pelajar kurang mampu yang ijazahnya ditahan oleh pihak sekolah.

"Dan ini sebenarnya program yang tidak efektif, kan bus itu membutuhkan operasional berarti membutuhkan anggaran, nah kenapa sih mereka tidak peduli dengan ijazah anak sekolah yang ditahan oleh pihak sekolah, bukan malah untuk ceremony, karena bus sekolah ini belum waktunya, sistemnya belum dibangun," katanya.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Ardhi Sanjaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved