Pilpres 2019

Polemik Puisi 'Doa yang Ditukar', Fadli Zon : Belajar Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

Fadli Zon menilai bahwa puisinya kini menjadi polemik karena orang-orang telah salah menginterpretasikannya.

Polemik Puisi 'Doa yang Ditukar', Fadli Zon : Belajar Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Wakil Ketua DPR RI, menghadiri acara Hari Ulang Tahun Partai Gerindra yang ke-11 di Ciawi, Kabupaten Bogor, Kamis (7/2/2019). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIAWI - Puisi 'Doa yang Ditukar' buatan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon baru-baru ini menjadi polemik.

Berbagai pihak memperdebatkan sosok 'Kau' di dalam pusinya yang diunggah di media sosial Twitter pada Minggu (3/2/2019) lalu ini.

Bahkan Fadli Zon sempat dimintai klarifikasi terkait sosok 'Kau' dalam puisinya itu karena dianggap dimaksudkan kepada KH Maimun Zubair atau Mbah Moen.

Fadli Zon sendiri menbantah jika puisinya ini mengarah kepada Mbah Moen.

Hal ini dia ungkapkan saat ditemui TribunnewsBogor.com usai menghadiri acara Hari Ulang Tahun Partai Gerindra yang ke-11 di Ciawi, Kabupaten Bogor, Kamis (7/2/2019).

"Saya menulis puisi gak ada sedikit pun maksud untuk KH Maimoen Zubair yaitu untuk sang makelar doa yang mengubah. Justru yang diucapkan Kyai Maimoen Zubaer itu yang sakral, yang orisinal, yang otentik, gitu. Jadi tidak ada sedikit pun," kata Fadli Zon.

Ia menuturkan bahwa sosok Mbah Moen merupakan sosok ulama yang dia hormati.

Fadli Zon menilai bahwa puisinya kini menjadi polemik karena orang-orang telah salah menginterpretasikannya.

"Saya kenal beliau adalah seorang ulama yang rendah hati, yang saya hormati. Jadi gak ada, salah itu orang yang menginterpretasikan, tidak ada arah kepada Mbah Moen, gak ada," katanya.

Selain itu, di saat puisinya ini ramai diperbincangkan, Fadli Zon sendiri diminta untuk meminta maaf atas puisinya ini.

Namun, Fadli menolak karena ia merasa tidak ada masalah apa pun.

"Minta maaf atas apa, wong gak ada apa-apa kok, ya bukan ditujukan ke sana. Jadi jangan digorang-goreng lah gitu, belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau melihat puisi sebagai puisi," pungkasnya.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved