Dana Asing Memicu Penguatan Mata Uang Garuda

Rupiah tercatat menguat. Mengutip Bloomberg, hari ini (26/2) rupiah di pasar spot sempat menguat ke level Rp 13.996.

Dana Asing Memicu Penguatan Mata Uang Garuda
Tribunnews/JEPRIMA
Seorang karyawan saat menghitung mata uang dalam bentuk pecahan Rp 50.000 dan pecahan Rp 100.000 di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -  Rupiah tercatat menguat. Mengutip Bloomberg, hari ini (26/2) rupiah di pasar spot sempat menguat ke level Rp 13.996. Bank Indonesia menyebut, penguatan rupiah disebabkan oleh faktor eksternal dan domestik.

"Penguatan rupiah hari ini dipengaruhi pelepasan valas oleh investor asing yang masuk ke pasar surat berharga negara (SBN)," jelas Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah, Selasa (26/2).

Masuknya dana asing tersebut ditopang faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal ditopang oleh melemahnya dollar Amerika Serikat (AS) dalam skala global karena menguatnya optimisme terhadap progres penyelesaian sengketa dagang.

Terutama setelah AS akan menunda kenaikan pengenaan tarif terhadap China yang semula akan diterapkan pada tanggal 1 Maret setelah perkembangan yang substansial dalam negosiasi perdagangan dengan China antara lain di sektor intellectual property protection, technology transfer, agriculture dan services.

Dollar AS juga melemah setelah Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May menunda implementasi no deal Brexit serta pernyataan Menteri Keuangan Jerman bahwa ekonomi Jerman akan terhindar dari resesi.

"Pelamahan dollar AS terhadap mata uang negara G10 membuat indeks dollar AS turun 0,10% ke level 96,41, sedangkan yield US Treasury bond 10 tahun turun ke 2.64%," jelas Nanang.

Dari domestik adanya kemungkinan dana asing yang masuk karena terdapat pasokan obligasi pemerintah.

"Dimana hari ini pemerintah menyelenggarakan lelang Surat Utang Negara (SUN). Pasar sekunder SUN pagi ini dibuka menguat, terindikasi dari rata-rata yield seri benchmark yang turun," jelas Nanang.

FR77 (5 tahun) turun ke 7,68% dan FR78 (10 tahun) turun menjadi 7,84%. Dengan yield US Treasury bond 10 tahun saat ini ke 2.64% sehingga spread dengan yield SUN 10 tahun (7.84%) berada di level 520 bps tetap menarik bagi investor global.

Menguatnya rupiah juga terjadi di tengah pasar valuta asing yang cukup likuid didukung mekanisme pasar yang semakin efisien. Efisiensi tercermin dari spread kurs jual beli di pasar antar bank yang cukup wajar antara Rp 5 - Rp 10.

BI tetap berada di pasar khususnya untuk mendukung likuiditas pasar Domestic Non-deliverable Forward (DNDF) dengan menyelenggarakan pelang setiap hari pukul 8.30 WIB. Selain itu, lelang yang telah dilakukan konsisten setiap pagi menjadikan kurs NDF luar negeri terkendali sehingga membantu terjaganya kurs spot rupiah.

Editor: Damanhuri
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved