Pemilu 2019

Belum Ada Caleg Yang Konsultasi Kerena Stres, Ini Gejala - Gejala Stres Usai Pemilu

Namun tidak bisa dihindari bahwa rasa was was atau kecewa pun akan muncul ketika hasil yang didapat tidak sesuai yang diharapkan.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho | Editor: Yudhi Maulana Aditama
dakta
ilustrasi stres 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Paska Pemilu 2019, kini para calon anggota legislatif ( Caleg) sedang disibukan dengan penghitungan suara.

Namun tidak bisa dihindari bahwa rasa was was atau kecewa pun akan muncul ketika hasil yang didapat tidak sesuai yang diharapkan.

Psikiater RS Marzuki Mahdi Bogor dr.Lahargo Kembaren SpKJ menjelakan bahwa hasil pemilu saat ini bisa menyebabkan timbulnya stres pada mereka yg mendapatkan hasil yang tidak diharapkan.

"Iya Fase fase psikologis seseorang ketika mendapatkan hal yang tdak diinginkan adalah Fase Shock dan Denial, Fase Anger, Fase Bargaining, Fase Depression dan Fase Acceptance, jadi stres ada dua bentuk, yang positif (disebut juga eustress) membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik, dan ada juga yang negatif (distress) yang menyebabkan munculnya berbagai masalah psikologis yang menyebabkan terganggunya fungsi dan produktivitas," katanya.

Dr yang juga praktek di Rs Siloam Bogor itu menjelaskan bahwa setiap orang akan memberikan respons stres yang berbeda dalam menghadapi stresor yang terjadi dalam hidupnya.

Respon stres ini sebenarnya bertujuan menyelamatkan kita, memberikan kita kesiapsiagaan dalam menghadapi suatu tantangan.

"Pada saat sedang stres, tubuh mengeluarkan berbagai hormon seperti kortisol dan adrenalin yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan kuat, meningkatkan aliran darah, mengencangkan otot-otot, dan menyiagakan seluruh panca indera, stres bisa berdampak negatif apabila terjadi dalam porsi yang lebih besar dan waktu yang lebih lama serta kurang baiknya manajemen stres yg dimiliki oleh seseorang," ujarnya.

Berikut stres yang berdampak negatif dan biaa berujung pada masalah atau gangguan kejiwaan, berrikut ini adalah gejala-gejala stres

"Pertaman gejala kognitif yaitu, masalah memori, sulit berkonsentrasi, membuat keputusan yang buruk, hanya melihat dari sudut pandang yang negatif, rasa cemas terhadap berbagai hal yang terus menerus muncul, sedangkan gejala fisiknya gatal atau nyeri di berbagai bagian tubuh, diare dan sulit buang air besar, mual dan pusing, nyeri dada dan jantung berdebar, hasrat seksual yang menurun, terasa dingin di ujung jari," katanya.

Selain gejala tersebut Dr Lahargo juga menjelaskan bahwa ada gejala emosi yang ditimbulkan, diantaranya mood yang labil, mudah emosi dan marah serta tersinggung, gelisah, tidak bisa tenang, merasa sendirian dan terisolasi, depresi, sedih, perasaan tidak gembira

Sedangkan untuk gejala perilaku adalah nafsu makan meningkat dan menurun, sulit tidur dan terlalu banyak tidur, tidak mau bersosialisasi atau bergaul, menunda-nunda pekerjaan dan tanggung jawab, menggunakan alkohol, merokok, narkoba untuk mencoba rileks, perilaku cemas, menggigit kuku, mondar mandir, melirik kiri kanan.

"Apabila ditemukan gejala-gejala seperti itu berarti, gejala negatif stres sedang menghinggapi, ini hal yang kurang baik, ada yang tidak pas dengan keseimbangan mental kita dan perlu dilakukan intervensi agar bisa kembali normal dengan menggunakan majemen stres," ujarnya.

Namun meski demikian hingga saat ini belum ada Caleg yang melakukan konsultasi mengenai gangguan jiwa.

Kasubag Hukum Organisasi dan Hubungan Masyarakat (Hukormas) RSMM Prahardian Priatama mengatakan sampai saat ini belum ada.

"Belum ada, sampai saat ini saya belum dapet kabar terkait hal itu," ujarnya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved