Kemacetan Puncak Kabupaten Bogor Berkah Bagi Joki Penunjuk Jalan Alternatif
Sekali mengantar, ia kenakan tarif sebesar Rp.150 ribu.
Penulis: Yudhi Maulana Aditama | Editor: Bima Chakti Firmansyah
Lapotan Wartawan TribunnewsBogor.com, Yudhi Maulana
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIAWI - Kemacetan di jalur Puncak, Kabupaten Bogor dimanfaatkan oleh warga sekitar.
Salah satunya Indra (30), yang menjadi joki penunjuk jalan alternatif dadakan menuju kawasan Puncak.
Warga Desa Bendungan Kecamatan Ciawi ini memanfaatkan momen kemacetan untuk mendulang rupiah.
Terlebih, saat Polisi Satuan Lalulintas Polres Bogor tengah memberlakukan sistem tutup jalur dari arah Jakarta menuju Puncak.
"Kalau lagi tutup jalur pasti ramai. Biasanya akhir pekan, pukul 9 pagi sama sore pukul 4 sore," katanya, Minggu (4/10/2015).
Lanjutnya, ia biasa menunjukkan jalur alternatif kepada wisatawan asal Jakarta agar bisa cepat tiba di Kawasan Puncak.
Ia biasa mangkal di depan Jalan Pertanian di Kampung Bendungan, Desa Bendungan, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Jalan tersebut merupakan jalan masuk menuju jalur alternatif menuju Puncak.
Sekali mengantar, ia kenakan tarif sebesar Rp.150 ribu.
"Tapi itu bisa ditawar lagi. Paling mentok Rp.100 ribu. Kalau lagi ramai saya bisa antar sampai 3 kali, Kalau lagi sepi paling cuma sekali," tuturnya.
Selama ini ia menjalani profesi sebagai penunjuk jalan alternatif pada akhir pekan, dan pada hari-hari biasa ia bekerja sebagai tukang ojek.
Ia menceritakan, banyak kendaraan yang mogok saat melintasi jalur alternatif.
Hal ini karena kondisi jalur alternatif banyak yang menanjak dan berkelok.
Selain itu, lebar jalan juga sempit sehingga bila ada kendaraan yang berpapasan harus menurunkan kecepatan.
"Kalau lewat jalur alternatif ini memang cukup panjang, bisa sampai kurang lebih 5 kilometer," katanya.
"Tapi kalau kondisi di jalan gede lagi macet, lewat sini bisa hemat setengah jam," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/buka-satu-jalur_20151003_181839.jpg)