Jadi Pemulung Sejak SD, Asep Kebingungan Dengar TPAS Galuga Mau Ditutup

"Almarhum ibu dan bapak saya juga mulung."

Jadi Pemulung Sejak SD, Asep Kebingungan Dengar TPAS Galuga Mau Ditutup
TribunnewsBogor.com/Ardhi Sanjaya
Ratusan pemulung yang juga warga sekitar TPAS Galuga kembali melakukan kegiatan memilah sampah. 

Laporan wartawan TribunnewsBogor.com, Ardhi Sanjaya

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBUNGBULANG - Menjadi pemulung sejak kelas dua SD, kini satu dari empat anaknya pun menjadi pemulung.

Asep Kohar (38), warga Kampung Cimangir Hilir, RW.4, Desa Dukuh, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, sedang kebingungan saat mendengar tempatnya bekerja akan segera ditutup.

Profesi pemulung, sudah dilakukan sejak ayah empat anak ini duduk dibangku sekolah dasar.

"Almarhum ibu dan bapak saya juga mulung," kata Asep.

Setiap hari, Asep mulai aktivitas mencari sampah plastik mulai pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB.

"Sampah yang didapat terus disortir dulu, baru dijual ke pengepul, ujarnya.


TribunnewsBogor.com/Ardhi Sanjaya

Tidak banyak yang didapat, dalam satu hari Asep mendapat Rp 50 ribu dari hasilnya memulung.

Setiap hari, dirinya harus memberi uang jajan pada anaknya yang duduk di bangku kelas 2 SMA, 3 SMP, dan 6 SD.

"Kadang saya kasih rata saja, satu orang Rp 7 ribu," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Ardhi Sanjaya
Editor: Suut Amdani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved