Panasonic dan Toshiba Bakal Tutup Pabrik, 2500 Orang Kehilangan Pekerjaan

Di luar dua perusahaan elektronik raksasa ini, terdapat dua perusahaan elektronik lain asal Korea Selatan yang juga mengumumkan akan menutup pabriknya

Tayang:
Editor: Vovo Susatio
TRIBUN NEWS / HERUDIN
Massa buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh Indonesia berdemonstrasi melintasi Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2015). Demonstrasi dilakukan karena adanya ancaman PHK besar-besaran seiring dengan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, JAKARTA - Rencana penutupan usaha PT Panasonic Lighting di Cikarang, Jawa Barat dan Pasuruan, Jawa Timur serta PT Toshiba Indonesia di Cikarang akan berdampak pada pemutusan hubungan kerja ribuan pekerjanya.

“Sekitar 2.500 pekerja akan di-PHK,” ujar Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal dalam konferensi pers di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta, Selasa (2/1/2016).

Said menjelaskan, ribuan pekerja itu terdiri atas sekitar 1.700 anggota KSPI di PT Panasonic dan 970 anggota KPSI di PT Toshiba.

Ia merinci, sebanyak 600 pekerja-700 pekerja dari Panasonic Lighting Pasuruan di PHK pada periode Desember 2015-Januari 2016.

Sedangkan Panasonic Lighting Cikarang-Bekasi, berjumlah 900 karyawan-1.000 karyawan yang di-PHK periode Januari 2016 sampai dengan Maret 2016.

Kedua pabrik Panasonic Lighting ini resmi ditutup.

Pabrik Toshiba di Cikarang-Bekasi pun mengumumkan ditutup pada pertengahan Januari lalu.

Saat ini pekerja tengah dalam proses negosiasi pesangon.

Perusahaan akan resmi berhenti beroperasi pada Maret mendatang.

Di luar dua perusahaan elektronik raksasa ini, terdapat dua perusahaan elektronik lain asal Korea Selatan yang juga mengumumkan akan menutup pabriknya di Indonesia yaitu PT Samoin yang telah mem-PHK 1.200 karyawannya dan juga PT Starlink yang mem-PHK 500 orang pekerja.

Kedua perusahaan ini telah selesai beroperasi di Indonesia pada Januari kemarin.

Said Iqbal mengatakan, tutupnya Panasonic Lighting dan juga Toshiba ini memberikan sinyal negatif terhadap investor asing yang akan datang ke Indonesia.

Selain itu, yang paling buruk menurut Said adalah lantaran Kementerian Perindustrian tidak mengetahui penutupan pabrik ini.

Faktor lesunya industri elektronik ini menurut Said Iqbal diantaranya adalah kondisi pasar yang tidak kondusif.

Melambatnya pasar global turut mempengaruhi pasar domestik.

Perlambatan ini mengakibatkan barang produksi menjadi tidak laku dipasaran.

Selain itu adalah karena menurunnya daya beli masyarakat.

Manajemen Panasonic Lighting dan Toshiba mengklaim, penutupan pabrik bukan lantaran upah buruh yang tinggi, melainkan karena sepinya pasar dan penurunan daya beli.

Tetapi, kata Said, PP Nomor 78 tahun 2015 mengenai pengendalian upah terbukti menurunkan daya beli masyarakat. Karena buruh pabrik merupakan pasar utama dari industri padat modal seperti industri otomotif dan sebagainya.

Dengan adanya pengendalian upah, daya beIi menjadi turun sehingga tingkat konsumsi masyarakat pun menjadi lemah.

Dengan PHK, pelemahan daya beli ini, maka tingkat pertumbuhan ekonomi 2016 yang ditargetkan mencapai 5,3 persen menurut Said Iqbal tidak akan tercapai dan hanya akan tumbuh sama seperti 2015 lalu di level 4,7 persen.

Faktor lain yaitu kegagalan paket kebijakan pemerintah Jokowi-JK di tingkat implementasi karena justru banyak perusahaan yang tutup.

Faktor ketiga menurut Said Iqbal adalah retorika paket kebijakan hanya untuk menyenangkan investor.

Padahal kenyataannya investor memilih wait and see untuk masuk ke Indonesia lantaran banyak yang hengkang.

Kabar penutupan dua pabrik milik PT Panasonic Lighting di Pasuruan, Jawa Timur, dan Bekasi, Jawa Barat, tidak akan memengaruhi bisnis penjualan Panasonic di Tanah Air.

PT Panasonic Gobel Indonesia yang selama ini banyak memproduksi produk elektronik rumah tangga menyatakan, pada tahun ini, justru siap melakukan ekspansi besar-besaran.

"Kami kan berada pada divisi yang berbeda. Justru penjualan produk konsumer elektronik sedang tumbuh saat ini," kata Achmad Razaki, Associate Director PT Panasonic Gobel Indonesia Elektronik, kepada Kontan, Selasa (2/2/2016).

Ia mengklaim, sejak akhir tahun 2015, penjualan produk konsumer elektronik yang dilakukannya berhasil mencatatkan rekor pada bulan November dan Desember.

Bahkan, pada bulan Januari tahun lalu, penjualan Panasonic tercatat tumbuh hingga 30 persen dari pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya.

Karena itu, menurut Achmad, pada tahun ini, Panasonic Gobel Indonesia masih akan banyak meluncurkan produk baru.

Achmad menambahkan, sejauh ini, pabrik Panasonic di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, masih tetap beroperasi normal, tanpa adanya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurut dia, setiap tahunnya perusahaan masih tetap merekrut pegawai baru.

"Kami masih tumbuh. Kalau tumbuh, ya masih butuh orang," kata Achmad.

Ia optimistis, pada tahun ini, Panasonic bisa mencatatkan pertumbuhan sekitar 20 persen dari pencapaian tahun 2015.

Namun, Achmad enggan untuk membeberkan berapa perolehannya tersebut.

Menurut dia, pertumbuhan tahun ini proyeksinya akan lebih tinggi dari tahun 2015. (RR Putri Werdiningsih/Dea Chadiza Syafina)

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved