Miras Impor Senilai Rp 2 Miliar Dimusnahkan, Disita dari Dua Orang Pelaku

10.296 botol miras ilegal impor asal Singapura diperjual belikan di Indonesia.

Miras Impor Senilai Rp 2 Miliar Dimusnahkan, Disita dari Dua Orang Pelaku
TribunnewsBogor.com/Damanhuri
Puluhan ribu botol berisi minuman keras (Miras) di musnahkan Direktorat Jendral Bea dan Cukai Bogor, Kamis (18/2/2016) 

Laporan wartawan Tribunnewsbogor.com, Damanhuri

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, KLAPANUNGGAL - Puluhan ribu botol berisi minuman keras (Miras) di musnahkan Direktorat Jendral Bea dan Cukai Bogor, Kamis (18/2/2016)

Sebanyak 10.296 botol miras ilegal impor yang diduga berasal dari Singapura ini untuk diperjual belikan di Indonesia.

Pemusnahan miras ini dilakukan di kawasan Industri Semen Holcim Indonesia yang berlokasi di Jalan Raya Narogong Km 7, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kepala Bea dan Cukai Wilayah Bogor, TB Lumban Raja mengatakan, pemusnahan minuman mengandung etil alkohol dari berbagai merek eks impor sebanyak 885 karton yang terdiri dari 10.296 botol miras berbagai merk.

"Barang bukti ini berhasil kami sita dari kedua tersangka berinisial JD (42) warga Citeureup, Kabupaten Bogor dan AML (25) warga Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Kedua pelaku telah berhasil memalsukan dokumen pelengkap pabean," ujarnya, Kamis (18/2/2016).

Lebih lanjut dia mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan tersangka, telah diketahui bahwa atas barang impor yang diajukan dengan dokumen DC 2.3 (impor) atas nama PT NT yang berlokasi di Cianjur.

Namun setelah diselidiki barang tersebut bukan barang impor milik PT NT, sebab jenis barang yang diberitahukan berupa 100% pabrik.

Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, sambungnya, karton tersebut ternyata berisikan minuman mengandung etil alkohol dengan menggunakan kontainer ukuran 20 feet seharga Rp 2 miliar lebih yang diduga berasal dari pemasok MRM LTD Singapura.

Menurutnya, kedua pelaku berpotensi merugikan negara dari pungutan bea masuk dan pajak (PPN dan PPH Impor), serta cukai sebesar Rp 6 miliar.

Sehingga, kedua pelaku dapat dikenakan pasal UU No. 17 tahun 2006, atas perubahan UU No. 10 tahun 1995 tentang kepabeanan, pasal 103 hurup A dengan ancaman minimal 2 tahun dan maksimal 8 tahun penjara, serta denda minimal Rp 100 juta dan maksimal Rp 5 miliar.

Penulis: Damanhuri
Editor: Suut Amdani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved