Ridwan Kamil Klarifikasi, Orang Itu Preman Omprengan Ilegal Bukan Sopir Angkot

Dia bagian dari komplotan preman yg suka maksa warga masuk ke mobilnya.

Editor: Suut Amdani
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil (kedua dari kanan) bersama Kadishub Kota Bandung, Didi Ruswandi (tengah) dan jajaran terkait memperlihatkan kartu Bandung Smart Car saat peresmian uji coba penggunaan tiket elektronik di bus Trans Metro Bandung (TMB) Koridor 2 di Halte TMB depan Stadion Persib, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Jumat (11/3/2016). Tiket sitem elektronik ini akan diuji coba selama satu bulan, dengan harapan ke depannya pelayanan TMB akan lebih baik dan tidak ada lagi penumpang yang naik atau berhenti tidak pada halte yang sudah disediakan. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BANDUNG - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dipolisikan oleh sopir bernama Taufik Hidayat karena diduga melakukan pemukulan.

Menanggapi pelaporan tersebut, Ridwan Kamil mengklarifikasi sekaligus membeberkan kronologis peristiwa itu melalui akun Facebook miliknya.

Baca juga: Ridwan Kamil Dilaporkan Sopir Angkot Bandung Dugaan Pemukulan

Begini isi postingan Ridwan Kamil yang diunggah pada Senin (21/6/2016):

Sekadar klarifikasi:

Tidak ada penamparan atau pemukulan.

Orang itu preman omprengan ilegal bukan sopir angkot.

Dia bagian dari komplotan preman yg suka maksa warga masuk ke mobilnya.

Dan selama ini meresahkan sopir-sopir angkot karena menyerobot rute resmi dengan sebagian beking-beking oknum aparat.

Sudah belasan kali diingatkan dengan lisan yang sopan oleh saya.

Tiga orang sudah saya tangkap, satu lainnya saya serahkan ke denpom karena oknum anggota TNI aktif.

Ada lima saya ajak bicara baik-baik sambil makan di pendopo.

Saya kasih tawaran pekerjaan di pemkot.

Tapi banyak yang tetap melanggar hukum alias baredegong, yang kemarin itu Kebetulan kepergok saat saya sedang bike to work, dan mau kabur.

Di situ banyak saksi termasuk polisi.

Bagaimanapun Kota ini harus tertib dan premanisme harus dibasmi.

Tidak mudah membereskan negeri ini namun tidak boleh menyerah termasuk menerima ikhlas risiko-risikonya.

Hatur Nuhun.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved