Jangan Anggap Sepele Rasa Nyeri dan Kram Saat Bercinta, Ini Penyebabnya
Masalah-masalah rahim mungkin terjadi seperti fibroid
Penulis: Vivi Febrianti | Editor: Suut Amdani
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Vivi Febrianti
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Beberapa wanita yang sudah menikah, ada yang pernah mengalami nyeri atau kram saat berhubungan suami istri.
Keadaan ini, tentunya akan sangat mengganggu kenyamanan, bahkan bisa menimbulkan masalah yang cukup serius dalam hubungan dengan pasangan.
Nyeri pada area genital saat berhubungan intim ini disebut Dyspaurenia.
Penyebabnya beragam, bisa karena adanya masalah secara fisik maupun psikis.
Untuk itu, penting mencari akar masalahnya, saat gejala dyspaurenia itu muncul.
Memang secara umum, sakit saat berhubungan intim disebabkan oleh kurangnya cairan pelumas yang dihasilkan oleh vagina.
Tentunya, kondisi ini bisa diatasi ketika wanita dalam keadaan lebih rileks, waktu pemanasan diperpanjang, atau bahkan dapat digunakan cairan pelumas.
Namun, tak hanya itu, ternyata nyeri dan kram saat berhubungan intim juga bisa dipengaruhi oleh hal lain.
Berikut hal-hal yang bisa menyebabkan nyeri dan kram saat berhubungan intim, yang dikutip dari laman meetdoctor.
1. Vaginismus
Vaginimus ini merupakan hal umum yang bisa menyebabkan organ intim, menjadi nyeri dan kram.
Gejala ini, ternyata disebabkan oleh rasa takut saat berhubungan intim, sehingga otot vagina jadi kejang.
2. Infeksi vagina
Infeksi vagina ini, biasanya kerap dikeluhkan pada sebagian besar wanita, dan termasuk dalam infeksi jamur.
3. Masalah dengan leher rahim
Saat suami istri berhubungan intim, penis dapat mencapai serviks saat penetrasi maksimal.
Nah, masalah dengan leher rahim seperti infeksi yang, dapat menyebabkan rasa sakit saat penetrasi mendalam.
4. Masalah dengan rahim
Masalah-masalah rahim mungkin terjadi seperti fibroid, ternyata dapat menyebabkan nyeri saat berhubungan intim dilakukan terlalu dalam.
5. Endometriosis
Endometriosis ini, merupakan kondisi penyakit saat jaringan yang melapisi rahim tumbuh di luar rahim.
6. Masalah dengan ovarium
Berbagai penyakit bisa terjadi pada ovarium seorang wanita.
Di antaranya, yang seirng terjadi yakni penyakit kista pada ovarium.
7. Penyakit radang panggul (Pelvic inflammatory disease atau PID).
Tak hanya kista ovarium, wanita juga harus waspada dengan penyakit radang panggul.
Ini adalah kondisi di mana jaringan di dalam panggul menjadi meradang.
Tekanan saat berhubungan intim, menyebabkan rasa sakit semakin bertambah.
8. Kehamilan ektopik
Tidak seperti kehamilan pada umumnya, kehamilan ektopik ini merupakan kehamilan yang tidak berkembang di dalam rahim.
Kehamilan ektopik terjadi, di mana telur yang dibuahi berkembang di luar rahim.
9. Mati haid atau menopause
Keyika seorang wanita mengalami menopause, dinding vaginanya akan kehilangan kelembapan normalnya, sehingga menjadi kering.
10. Berhubungan terlalu cepat setelah operasi atau melahirkan
Berhubungan intim sesaat setelah operasi atau melahirkan biasanya tidak diajurkan.
Sebab, luka akibat operasi atau melahirkan belum sembuh benar, makanya kram saat berhubungan intim bisa saja terjadi.
11. Penyakit menular seksual
Penyakit menular seksual ini beragam, dan terjadi akibat kehidupan seksual yang tidak baik.
Penyakit menilar seksual termasuk kutil kelamin, luka karena herpes, atau penyakit menular seksual lainnya.
12. Cidera pada vulva atau vagina
Saat melahirkan, adanya cidera atau luka di sekitar organ intim bisa saja terjadi.
Kondisi itu biasanya berasal dari sayatan (episiotomi) yang dibuat di area kulit antara vagina dan anus selama persalinan.
Setelah mengetahui penyebabnya, lantas Anda akan bertanya, bagaimana cara mengatasinya.
Untuk beberapa kasusu pengobatan, memang tidak memerlukan perawatan medis.
Misalnya, seks yang menyakitkan setelah kehamilan.
Hal itu dapat diatasi dengan menunggu setidaknya enam minggu setelah melahirkan sebelum melakukan hubungan intim.
Pada kasus di mana ada kekeringan vagina atau kurangnya pelumasan, cobalah produk pelumas berbasis air.
Namun, beberapa pengobatan untuk nyeri seksual yang dialami wanita, memang membutuhkan perawatan yang dilakukan oleh ahlinya.
Jika vagina kering karena menopause, Anda bisa minta diresepkan krim estrogen atau obat resep lainnya.
Sementara itu, untuk beberapa kasus nyeri seksual di mana tidak ada penyebab medis yang mendasari, bisa dilakukan dengan cara terapi seksual.
Untuk sebagian orang, rasanya perlu untuk menyelesaikan masalah-masalah seperti rasa bersalah, konflik batin akibat ketidakharmonisan, atau beban masa lalu yang masih mengganggu.
Sebaiknya, segera hubungi dokter jika ada gejala seperti pendarahan, lesi genital, menstruasi yang tidak teratur, keputihan, atau kontraksi otot vagina yang berlebihan.
Jangan malu untuk meminta rujukan ke seorang konselor seks bersertifikat, jika ada masalah lain yang perlu ditangani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/nyeri-perut_20160414_163957.jpg)