Kata Profesor IPB Ini, Indonesia Membutuhkan 5.000 Ahli Aktuaris di Dunia Kerja, Berminat?

Aktuaris menempati posisi strategis dalam industri keuangan.

Penulis: Vivi Febrianti | Editor: Bima Chakti Firmansyah
Tribun Kaltim
Ilustrasi 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Vivi Febrianti

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr. Yonny Koesmaryono mengatakan, ahli aktuaria (Aktuaris) merupakan profesi yang berkembang seiring dengan semakin majunya peradaban dan semakin beragamnya kebutuhan manusia.

"Aktuaris sering disebut sebagai arsitek finansial, atau ahli matematika sosial," katanya dalam dalam siaran pers di Kampus IPB Dramaga, Kamis (19/5/2016).

Ia menyebutkan, menurut Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), saat ini jumlah aktuaris yang ada di Indonesia hanya 300 orang.

Padahal di Indonesia dibutuhkan 5 ribu orang aktuaris dalam dunia kerja.

"Untuk tahun pertama, PAI menyerahkan dana 100 juta untuk beasiswa, dan pengaturan beasiswanya diserahkan kepada IPB," katanya.

Aktuaris, kata dia, umumnya bekerja di industri asuransi jiwa, asuransi umum, asuransi sosial, reasuransi, asuransi jiwa syariah, konsultan aktuaria, dana pensiun, bursa, perbankan, pendidikan, konsultan manajemen, kemenkeu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).


(Ist) Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr. Yonny Koesmaryono

Pengembangan ilmu aktuaria merupakan langkah penting, dalam menjawab tantangan kehidupan yang semakin berat.

Belum lagi menghadapi ancaman yang bersifat tidak pasti dan berisiko besar secara ekonomi.

"Aktuaris menempati posisi strategis dalam industri keuangan, mengingat perannya dalam memperkirakan peluang terjadinya peristiwa di masa depan beserta risiko keuangan yang menyertainya," jelasnya.

Sementara untuk Prodi Teknologi Hasil Ternak (THT), IPB pernah memiliki prodi tersebut hingga Tahun 2005.

Namun karena ada restrukturisasi, prodi tersebut dilebur dengan prodi lain, itu juga terjadi di seluruh perguruan tinggi lain yang memiliki Fakultas Peternakan.

"Makanya tahun ini, kita re-open lagi prodi THT karena kebutuhan dan konsumsi kita terhadap hasil ternak yang besar," ujarnya.

Prodi THT memiliki tugas menyiapkan tenaga terdidik dan terampil, untuk mengembangkan inovasi dan kreativitas dalam pengembangan pengolahan hasil ternak.

"Pada sisi keilmuan, mahasiswa akan diajarkan ilmu dasar pengetahuan bahan dan komoditi ternak yang terintegrasi pada proses hulu dan hilir," katanya.

Untuk mendapatkan gelar sarjana dari kedua program studi ini, mahasiswa harus menyelesaikan masa studi selama empat tahun.

"Sekitar 146 SKS untuk Sarjana Aktuaria dan 144 SKS untuk Sarjana Peternakan," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved