Mengungkap Rahasia Pengemis di Ibukota, Kok Bisa Punya Rumah Mewah di Kampungnya
Saya nggak kepikiran untuk jadi pelayan rumah tangga, karena tidak lulus SD
Penulis: Vivi Febrianti | Editor: Vivi Febrianti
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Vivi Febrianti
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Bulan Ramadhan seperti ini, biasanya dimanfaatkan oleh sejumlah orang untuk fokus beribadah, di antaranya bersedekah kepada sesama.
Nah, itulah yang akhirnya dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk mengemis di lokasi-lokasi yang ramai dikunjungi orang.
Maka tak aneh jika di bulan Ramadhan seperti ini, banyak pengemis yang bermunculan di sejumlah daerah.
Padahal sudah jadi rahasia umum, kalau banyak pengemis di ibukota yang pada kenyataannya memiliki rumah mewah di kampung halamannya.
Misalnya, rumah mewah milik pengemis di Brebes yang sempat ramai jadi perbincangan publik.
Jurnalis KompasTV, Aiman Witjaksono, sempat berkunjung langsung ke Desa Grinting, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tahun lalu.
Di sana ia menemukan sejumlah fakta yang belum banyak diketahui oleh publik, di antaranya Aiman bertemu dengan sejumlah kerabat pengemis.
Ia datang langsung ke rumah mewah yang diakui pejabat setempat sebagai rumah milik orang yang dulunya menjadi gelandangan.
Tampak dari luar, rumah itu cukup mewah dan berdiri megah di sebuah desa, yang beberapa tahun lalu sempat dikenal dengan sebutan "Desa Pengemis".
Namun sayang, sang pemilik rumah sepertinya sedang tidak ada di dalam rumahnya.
Memang tak mudah menemukan hal-hal baru dan ternyata mencengangkan.
Sejumlah warga di sana begitu tertutup, dan sulit untuk mengungkapkan fakta yang diketahuinya.
Berdasarkan wawancaranya dengan Kepala Desa Grinting, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Suhartono, Aiman mengetahui kebenaran rumah mewah milik pengemis itu.
Meski ragu, ia akhirnya membenarkan bahwa rumah mewah yang berada di sisi jalan itu merupakan milik mantan gelandangan di Jakarta.
"Tapi tidak sepenuhnya hasil mengemis, anaknya di sini punya warung, saat dia pulang rumahnya sudah bagus dibangun anaknya, jadi orang mikirnya hasil mengemis," beber Suhartono kepada Aiman.
Ia mengatakan, alasan pemilik rumah tidak ada saat Aiman mengunjunginya, yakni karena pemilik rumah sedang ada di Jakarta.
"Di Jakarta itu mereka usaha rongsokan dan sekarang ada yang punya warung, tidak mengemis lagi kok," ujarnya.
Suhartono menegaskan, berbagai cara telah ia lakukan agar jumlah pengemis di desanya berkurang, yakni dengan memberdayakan di usaha rumahan milik warga sekitar.
Tak cukup mendapat jawaban dari Suhartono, Aiman kemudian mewawancarai mantan pengemis yang pernah meminta-minta selama 30 tahun, Suheri.
"Selama 30 tahun itu bukan pengemis semua, kadang narik becak, narik sampah atau narik sopir," kata pria yang kini berkerja sebagai perangkat desa di Desa Grinting.
Ia menceritakan, pertama kali datang ke Jakarta pada Tahun 1961, tidak pernah terpikir olehnya untuk bekerja yang lainnya selain mengemis.
"Ngemis di restoran, cukup untuk makan, waktu itu usia 20 tahun, saya nggak kepikiran untuk jadi pelayan rumah tangga, karena tidak lulus SD," jelasnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti karena mengemis sudah malu, dan bekerja menjadi hansip di kantor desa hingga akhirnya diangkat menjadi perangkat desa.
"Sebenarnya dari awal juga sudah malu, setelah pulang mengemis saya ikut jadi hansip terus ditarik sama Pak Kades untuk bantu-bantu," katanya.
"Saya sangat menyesal jadi pengemis karena termasuk terhina sekali, cukuplah sampai saya jangan ke anak cucu," tutupnya.
Lihat videonya :
Youtube/KOMPASTV
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/rumah-pengemis_20160614_105156.jpg)