Gas 3 Kilo Langka, Disperindag Kabupaten Bogor Sita Tabung Milik Restoran
Namun, penggunaan gas bersubsidi itu untuk masyarakat yang penghasilannya dibawah Rp 1,5 juta kebawah.
Penulis: Damanhuri | Editor: Ardhi Sanjaya
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Damanhuri
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Ditengah kelangkaan gas melon atau gas elpiji berukur 3 Kg di Kabupaten Bogor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan mendapati restoran masih menggunanak gas bersubsidi tersebut.
Pasalnya, menurut Kabid Perdagangan pada Disperindag Kabupaten Bogor, Jona Sijabat menjelaskan, penggunaan gas bersibsudi bukan diperuntukan bagi rumah makan maupun hotel.
Namun, penggunaan gas bersubsidi itu untuk masyarakat yang penghasilannya dibawah Rp 1,5 juta kebawah.
"Kecuali warteg masih ada telorensi karena usaha kecil, kalau sudah rumah makan engga boleh pakai yang subsidi," jelasnya.
Dari delapan lokasi yang didatangi oleh Disperindag, dua diantaranya ditemukan menggunakan gas bersubsidi untuk usaha rumah makannya.
Seperti yang ditemukan dirumah makan Berkah yang berlokasi di Jalan Raya Jakarta Bogor sebanyak 16 tabung berukuran 3 kilogram dan Rumah Makan Warung Jabu Ibu Hj Nyai yang berlokasi disekitar Simpang Sirkuit Sentul, Bogor.
"Total ada 18 tabung gas tiga kilogram yang kami dapat. Dua tabung 3 kilogram kami tukar dengan satu tabung berukutan 5,5 kilogram," ungkapnya.
Pihaknya juga tidak akan lagi memberi toleransi jika kembali ditemukan menggunakan gas bersubsidi untuk usaha rumah makannya.
"Ini sudah kami buatkan perjanjian, kalau masih pakai gas bersubsidi maka izin usahanya bisa kami cabut," tegasnya.
Disisi lain, pengusaha rumah makan ini hanya bisa pasrah saat petugas mengecak-acak dapurnya dan menemukan sejumlah gas bersubsidi.
"Biasanya pakai yang 12 kilogram, karena yang 12 kilogramnya lagi engga ada. Makannya kami pakai yang 3 kilogram," kata Karno (49) salah seorang pengusaha rumah makan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/sidak-disperidag-kabupaten-bogor_20170308_145724.jpg)