Menelisik Asal-Usul Komunitas Arab di Puncak Hingga Berbaur dengan Warga Lokal

Jangan aneh, ketika kita mendapati‎ orang arab sedang memberi makan burung peliharaannya setiap pagi seperti yang biasa dilakukan oleh warga lokal.

Tayang:
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Yudhi Maulana Aditama
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Kawasan Warung Kaleng, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor yang kental dengan nuansa timur tengah 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Sudah menjadi pemandangan umum bila berkunjung ke Puncak, orang-orang akan melihat warga timur tengah berseliweran.

Selain itu, toko-toko dan restoran bernuansa Arab Saudi juga di bertebaran di sepanjang jalur Puncak.

Mulai dari toko jasa jual beli tiket, toko alat-alat berkemah, penjual kambing hingga toko penjual pulsa.

Nuansa Arab paling kuat terletak di Jalan Raya Puncak km 84, perbatasan Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Warga biasanya menyebut tempat itu dengan ‎nama Warung Kaleng.

Menurut Ketua Kelompok Penggerak (Kompepar) Puncak, Bowie, Warung Kaleng berawal dari toko-toko keturunan Arab yang berdiri di sana sejak sekitar tahun 1970-an.

Di kawasan Warung Kaleng, terdapat banyak toko-toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari orang timur tengah.

"Dulu mah kan yang menjual kain, alat-alat rumah tangga kan orang-orang keturunan arab. Trus temen-temennya dari timur tengah diundang kesini awalnya hanya maen, terus jadi berbisnis, berjualan dan sebagainya," ungkap Bowie.

Dari waktu ke waktu, aktivitas warga Arab yang ada di sana pun sudah tidak dianggap aneh lagi oleh warga sekitar.

Warga sekitar sudah terbiasa dan sudah berbaur dengan warga timur tengah tersebut.

Mereka juga kerap bercanda dengan warga Arab.

Bahkan, banyak juga dari mereka yang menikah dengan warga Arab itu.

Untuk warga Arab pun sama.

Jangan aneh, ketika kita mendapati‎ orang arab sedang memberi makan burung peliharaannya setiap pagi seperti yang biasa dilakukan oleh warga lokal.

Warga arab yang ada di Puncak juga tidak hanya orang arab yang berkulit putih dan berjenggot tebal, tapi juga orang arab yang berkulit gelap keturunan afrika.

Banyaknya warga Arab yang datang ke Puncak membuat bahasa Arab dianggap dasar penting untuk mencari rezeki di Puncak.

Tukang parkir, tukang ojek hingga pedagang asongan pun sudah menguasai bahasa Arab demi pekerjaan mereka.

Para pedagang yang menguasai bahasa Arab akan bisa kita temui di beberapa tempat wisata seperti di Taman Wisata Matahari, Curug Cilember, Puncak Pass dan banyak destinasi lainnya di Puncak.

Salah satunya, Asep (35), pria yang berjualan stroberi di Curug Cilember ini mengaku bisa bahasa Arab karena kebutuhan.

‎"Saya mah belajar sedikit-sedikit dari teman.‎ Karena kan banyakan orang Arab. Karena perlu aja, sih. Saya juga udah empat tahunan bisa bahasa Arab," jelas Asep.

Di tempat yang berbeda, karyawan minimarket seperti Alfamart tidak mau ketinggalan, mereka ikut mempelajari bahasa Arab demi kelangsungan hidup dan bekerja di sana.

Menurut Corporate Communication Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), Budi Santoso,‎ mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah memberikan pelatihan bahasa Arab secara khusus kepada karyawannya yang bekerja di Puncak.

"Pada prinsipnya itu merupakan kelebihan dan keahlian dari masing-masing karyawan. Namun Alfamart memberikan kebebasan selebar lebarnya bagi para karyawannya dalam belajar bahasa asing," jelas Budi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved