Peneliti IPB Perbaiki Performa Ikan Lele Afrika
Pencegahan melalui rekaya genetika dapat dilakukan dengan seleksi ikan secara konvensional.
Penulis: Yudhi Maulana Aditama | Editor: Yudhi Maulana Aditama
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Mahasiswa Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Fadhila Maharani Putri melakukan penelitian tentang performa pertumbuhan dan daya tahan ikan lele Afrika generasi kedua pembawa Marka MHC terhadap infeksi Aeromonas hydrophila.
Penelitian ini di bawah bimbingan Dr. Alimuddin dan Dr. Dinamella Wahjuningrum, dan diharapkan dapat dilakukan observasi pewarisan marka MHC, performa pertumbuhan serta daya tahan ikan lele generasi kedua (F2) terhadap bakteri A. hydrophila.
Latar belakang penelitian Fadhila karena permasalahan penyakit motile aeromonad septicemia (MAS) yang sering dijumpai pembudidaya ikan lele.
"Penyakit ini disebabkan Aeromonas hydrophila, bakteri gram negatif yang umum ditemukan di perairan tawar. Bakteri ini mampu menyebabkan kematian 80–100 persen ikan lele. Ikan yang terserang penyakit ini mengalami pendarahan pada tubuh bagian dada, perut dan pangkal sirip yang disertai luka di permukaan tubuh, abses, ulser serta perut gembung," jelasnya dalam siaran pers yang diterima TribunnewsBogor.com.
Lanjutnyam sSalah satu penanggulangan serangan penyakit ini adalah melalui pencegahan , seperti pemberian vaksin atau rekaya genetika.
Pencegahan melalui rekaya genetika dapat dilakukan dengan seleksi ikan secara konvensional.
“Kelemahannya membutuhkan waktu yang lama. Hal ini dilakukan pendekatan secara marka molekular. Ikan salmon pembawa major histocompatibility complex (MHC) dengan marka Onmy-UBA*401,” kata Fadhila.
Lebih lanjut Fadhila mengatakan, Major histocompatibility Complex (MHC) berperan penting dalam sistem imun teleostei seperti mempresentasikan antigen, memudahkan antibodi untuk mengikat antigen dan membantu proses fagositosis.
Pengamatan daya tahan ikan lele MHC sudah sebelumnya dilakukan terhadap keturunan pertama (F1).
Akan tetapi, belum dilakukan pengamatan pewarisan marka MHC pada keturunan lele MHC selanjutnya (F2) dan daya tahan ikan lele MHC terhadap bakteri A. hydrophila.
Keturunan F2 dibuat dengan melakukan persilangan antara induk jantan membawa (positif) MHC dengan induk betina positif MHC, dan induk jantan negatif MHC dengan induk betina negatif MHC.
Ikan lele F2 kemudian diidentifikasi menggunakan metode PCR. Setelah berukuran panjang sekitar 12 centimeter, ikan diuji tantang dengan A. hydrophila sebanyak 0,1 mililiter per ekor (106 CFU/ml) pada bagian intramuskular (punggung ikan), melalui metode injeksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan marka MHC pada keturunan kedua berkisar 77–97 persen.
Performa pertumbuhan bobot ikan pada perlakuan MHC lebih baik dibandingkan benih ikan kontrol. Hasil gambaran darah sesudah penyuntikan dengan A. hydrophila memiliki jumlah sel limfosit lebih tinggi (72 – 79 persen) pada perlakuan MHC dibandingkan perlakuan kontrol (62,00±2,52).
Sementara kelangsungan hidup setelah uji tantang dengan A. hydrophila pada persilangan antara induk pembawa marka MHC memberikan hasil kelangsungan hidup sekitar dua kali lebih tinggi daripada kontrol.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/lele_20170807_232243.jpg)