Breaking News:

Jalan Panjang Restoran Rindu Alam Puncak Berakhir di Kewenangan Pemprov Jabar

bercerita awal mula pembangvunan ketika sang kakek, Letna Jenderal Ibrahim Adjie memilih untuk meninggalkan dunia politik.

TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Rindu Alam 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Berdiri sejak 1979 Restoran Rindu Alam, Jalan Raya Puncak, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor hanya tinggal menghitung hari untuk diratakan dengan tanah.

Cucu kedua sang pendiri, Adam Adji bercerita awal mula pembangvunan ketika sang kakek, Letna Jenderal Ibrahim Adjie memilih untuk meninggalkan dunia politik.

Pria kelahiran Bogor yang pernah menjabat sebagai Panglima Kodam Siliwangi ini menurut Adam berkawan dengan Mangkuto, pemilik Roda, restoran Padang di Cipanas, Cianjur.

Mereka bekerja sama membangun rumah makan yang berlokasi di ketinggian sekitar 1.443 dari permukaan laut, tahun 1980 Rindu Alam mulai beroperasi.

"Jadi tahun 1979 dibangun, tahun 1980 beroperasi, kebetulan kakek saya Ibrahim Adji punya rekanan Mangkuto, mereka temenan baik sampai sekarang ini, keduanya sudah meninggal, diteruskanlah oleh anak-anaknya, terus cucu-cucunya," ungkap Adam kepada TribunnewsBogor.com di Rindu Alam, Puncak Bogor.

Menurut Adam, nama Rindu alam pertamakali diambil oleh kakeknya sendiri dimana artinya merupakan perasaan tentang kerinduan, dan mengingat terhadap kelestarian alam Puncak.

Selama beberapa tahun berdiri, restoran Rindu Alam berhasil menarik hati para pengunjung Puncak, namun menurutnya pada tahun 1983 - 1984 cobaan mulai muncul.

Restoran Rindu Alam, Puncak, Kabupaten Bogor
Restoran Rindu Alam, Puncak, Kabupaten Bogor (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Tuntutan pembongkaran restoran dari pihak pemerintah ternyata juga pernah terjadi pada masa orde baru tersebut, namun berhasil dibatalkan setelah Ibrahim Adjie berupaya mempertahankan tempat usahanya itu.

"Pernah dulu pada jaman Soeharto Rindu Alam mau digusur juga, karena kakek saya kenal baik dengan pemerintah, dan juga jasa-jasanya dulu, tuntutan berhasil dibatalkan," ungkapnya.

Sejak awal berdiri hingga sekarang, para karyawan yang bekerja di restoran itu sebagian besar masih setia bekerja di sana hingga mereka mempunyai anak cucu.

Adam pun mengaku masih ingat ketika ia berumur tiga tahun, ia bermain di dalam restoran, dibopong-bopong oleh karyawan yang bahkan sampai sekarang masih bekerja dan Adam pun kini sudah berkeluarga dan punya anak.

Adam Adjie bersama anak keempatnya, Arjuna yang berumur 2 tahun di depan kasir Restoran Rindu Alam.
Adam Adjie bersama anak keempatnya, Arjuna yang berumur 2 tahun di depan kasir Restoran Rindu Alam. (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Ketika muncul pemberitaan tentang adanya rencana penggusuran Rindu Alam oleh Pemprov Jawa Barat beberapa waktu lalu, Adam mengaku kaget karena tiba-tiba restorannya itu ramai dibicarakan di media sosial.

Ia sebagai Staf Pimpinan bersama jajaran manajemen Rindu Alam dari pihak keluarga Mangkuto mencoba untuk mempertahankan restoran kakeknya itu hingga karyawannya yang berjumlah lebih dari 105 orang pun mendukung upayanya.

"Awal ada kabar, itu udah rame, kita kebetulan masuk ke medsos ya, dari sekian banyak yang komentar itu responnya baik, sangat baik, sampai ada tamu kita dari yang pacaran kesini sampai punya cucu, cucunya suka ke sini juga, sampe gitu, nostalgianya kan dapet, sayang kalau sampe restoran ini gak ada," ujar

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Ardhi Sanjaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved