Breaking News:

Mahasiswi IPB Sulap Bekatul dan Angkak Jadi Makanan Berserat Tinggi, Seperti Ini Bentuknya

upaya yang dilakukan untuk menurunkan hiperkolesterolemia yaitu dengan mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi serat.

Editor: Soewidia Henaldi
Humas
Camilan penurun kolesterol hasil karya mahasiswi IPB. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Perubahan gaya hidup seperti kurangnya berolahraga, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol dan lemak, serta kurangnya asupan serat dapat memicu terjadinya penyakit.

Salah satunya adalah penyakit kardiovaskular.

Upaya yang dilakukan untuk menurunkan hiperkolesterolemia yaitu dengan mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi serat.

Makanan dapat dikatakan tinggi serat apabila mengandung serat minimal sebesar 6 persen.

Baca: Tak Menyangka Meikarta Banjir, Begini Reaksi Kocak Warganet di Video Banjir Postingan Suryo Prabowo

Beberapa komponen penting yang terkandung dalam makanan terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol seperti saponin, tanin, alkaloid dan flavonoid.

Untuk itu, mahasiswi Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB), Ditha Mithania,  melakukan penelitian yang memanfaatkan bekatul dan angkak yang ditambahkan pada agar-agar sebagai cemilan penurun kolesterol.

Agar-agar merupakan salah satu cemilan yang digemari oleh masyarakat Indonesia karena mengandung kadar serat yang cukup tinggi.

Namun, Ditha memiliki suatu inovasi dengan menambahkan bekatul dan angkak pada agar-agar supaya agar-agar tersebut bisa menjadi alternatif cemilan yang lebih fungsional.

Baca: Singgung 2 Menteri Jokowi Rangkap Jabatan, Fadli Zon : Kata-Katanya Semakin Tak Bisa Dipegang

Bekatul merupakan limbah penggilingan padi yang mengandung serat.

Selain bekatul, angkak merupakan beras yang difermentasi oleh kapang.

Bekatul dan angkak mengandung senyawa fitokimia yang dapat menurunkan kolesterol, antara lain saponin, tanin, alkaloid, flavonoid dan fenolik.

Ada tiga tahap penelitian yang dilakukan oleh Ditha yaitu pengujian tanin dan alkaloid pada fraksi air bekatul dan angkak, proses pembuatan agar-agar, karakterisasi kimia dan fisik produk agar-agar.

Baca: Warungnya Viral Saat Banjir, Pecel Lele Cak Hendrix Kini Dibanjiri Pengunjung, Begini Rasa Sambalnya

Karakteristik kimia meliputi analisis proksimat, kadar serat, uji total fenolik dan flavonoid, serta uji in vitro pengikatan kolesterol.

Sedangkan karakteristik fisik meliputi uji organoleptik rating hedonik, analisis warna dan tekstur.

Ditha menguji tiga formula pada pembuatan agar-agar, yaitu dengan menambahkan sodium sitrat sebanyak 0,1 persen, 0,3 persen dan 0,2 persen.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula dengan penambahan sodium sitrat sebesar 0,3 persen paling disukai yaitu dengan penambahan bekatul dan angkak sebesar 3,99 persen  dan 0,11 persen dari berat total produk.

Baca: Sudah Punya Pasangan tapi Masih Tertarik Cewek Lain, Ini Cara Menyikapinya

Produk agar-agar terpilih mengandung serat pangan sebesar 14,80 persen dan total flavonoid sebesar 2mg per 100 gram produk.

Berdasarkan hasil uji pengikatan kolesterol secara in vitro menunjukkan bahwa produk agar-agar dapat menurunkan kolesterol sebesar 60,11 persen (basis kering).

Produk agar-agar berwarna merah kecoklatan dan tekstur agar-agar yang dihasilkan lebih lunak dibandingkan tanpa penambahan bekatul dan angkak. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved