Alami Obesitas, Buaya Kojek Jalani Program Diet
Direktur Utama TSI, Jansen Manansang, mengatakan bahwa Kojek mengalami obesitas dan harus dikembalikan seperti biasanya
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Damanhuri
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Masih ingat dengan kojek seekor buaya yang pernah dipelihara warga Kota Bogor hingga berusia 21 tahun.
Rupanya, buaya muara itu kini sedang menjalani program diet di Taman Safari indonesia (TSI), Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.
Buaya muara ini sempat tinggal selama 21 tahun lamanya dengan seorang warga yang memeliharanya.
Seperti diketahui, pada hari Minggu (4/2/2018) Kojek dievakuasi dari rumah pemiliknya, Iwan.
Ia dan keluarganya menangis saat Kojek meninggalkan mereka.
Dilansir dari berbagai sumber, buaya muara itu memiliki ukuran panjang 2,75 meter, lebar perutnya sekitar 80 centimeter, dan bobotnya 200 kilogram.
Setelah 21 bersama, Iwan harus merelakan Kojek untuk diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Awalnya Irwan dan keluarga tidak rela Kojek dibawa petugas.
Namun, setelah diberi penjelasan, buaya jenis muara itu akhirnya dievakuasi.
Sebanyak delapan orang membantu evakuasi buaya tersebut, meski Kojek sempat berontak saat petugas menggiringnya masuk ke dalam boks.
Buaya itu akan dikarantina dan dirawat hingga beberapa bulan ke depan.
Kini, Kojek itu berada di Taman Buaya, Taman Safari dan ditangani oleh pakar buaya.
Direktur Utama TSI, Jansen Manansang, mengatakan bahwa Kojek mengalami obesitas dan harus dikembalikan seperti biasanya.
Selain itu, lanjut dia, Kojek kini juga punya teman baru yang bisa membantu mengurangi obesitas yang dialami buaya tersebut.
"Dengan temennya atau bermain-main, berlari-lalri itu akan mengurangkan (obesitas). Kita ada dari tim dokter, keeper dan bagian kontrol makanan bernutrisi, di situ akan dijaga, apakah makanan yang dikurangkan," ujar Jansen kepada TribunnewsBogor.com, Selasa (13/2/2018).
Selain itu, untuk Kojek menurutnya dihadirkan juga tim riset untuk menakar nutrisi dalam makanannya yang kemudian dicatat sehingga nantinya bisa dihitung.
Jansen juga mengatakan bahwa pihaknya juga mencoba mengembalikan karakter liar dari kojek agar bisa sepenuh hidup di alam walau pun menurutnya hal itu membutuhkan waktu.
"Harus dikembalikan lagi kepada karakter liarnya, karena buaya ini untuk di alam bukan untuk peliharaan di rumah. Memang kesulitan ada karena kita memerlukan waktu kalau dia sudah biasa makan dan tinggal dengan manusia," katanya.
Ia juga menghimbau kepada masyarakat yang memiliki satwa langka untuk mengembalikannya karena populasi satwa langka harus dijaga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/buaya_20171211_133706.jpg)