Breaking News:

Pilpres 2019, Yusril Ihza Mahendra : PBB Sejak Awal Tak Dukung Jokowi

Bahkan apabila nanti pemilu menghadirkan calon tunggal maka PBB akan memilih kotak kosong ketimbang Jokowi.

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Bakal calon Gubernur DKI Jakarta Yusril Ihza Mahendra menyampaikan pandangannya tentang tata kelola DKI Jakarta saat berkunjung ke kantor Tribun Network di Palmerah, Jakarta, Jumat (11/3/2016). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ketua Umum Partai Bulan Bintang ( PBB), Yusril Ihza Mahendra memprediksi Pemilu Presiden 2019 bisa menghadirkan calon tunggal, atau dua calon saja.‎

Dua calon yang memungkinkan untuk kembali bertarung di Pemilu mendatang yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

"Kalau dari awal kami menilai sepertinya ini skenario calon tunggal atau paling tidak mengulang di mana pasangan Pak Jokowi berhadapan dengan pasangan Pak Prabowo. Tapi sampai hari ini kita melihat Pak Prabowo masih belum memutuskan apakah maju atau tidak sehingga spekulasi berkembang luas," kata Yusril di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin ( 9/4/2018).

Yusril sendiri mengaku partainya belum menentukan sikap dalam Pemilu mendatang.

Meskipun demikian, Yusril memastikan tidak akan memilih Jokowi di Pemilu nanti.

Bahkan apabila nanti pemilu menghadirkan calon tunggal maka PBB akan memilih kotak kosong ketimbang Jokowi.

"PBB dukung Jokowi jelas tidak. Kita sudah sejak awal mengatakan kami tidak mendukung Pak Jokowi. Andaipun pencalonan ini calon tunggal, ya PBB akan kampanye dukung kotak kosong aja," katanya.

Adapun alasannya, menurut Yusril, ekonomi Indonesia di bawah pemerintah Jokowi mengalami kemuduran.

Utang negara semakin meningkat, sementara penggunanya tidak jelas.

Yusril mengatakan Utang luar negeri Indonesia tidak digunakan sepenuhnya untuk pembangunan infrastruktur melainkan untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang.

‎"Kalau utang untuk bayar utang lagi, itu akan makin berat dan kita lihat kemudian kenaikan harga kebutuhan pokok, subsidi hilang, listrik naik dan kemudian juga kita melihat terjadi keresahan sosial makin hari makin luas terutama kelompok Islam tertekan, ulama dikriminalisasi bahkan ada yang dianiaya dan sebagainya keadaan ini tidak terlalu baik dan lebih baik 2019 kita mencari presiden yang baru," pungkasnya. 

(Tribunnews.com/ Taufik Ismail)

Editor: Yudhi Maulana Aditama
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved