Terjadi Lagi Bencana Alam, Pakar IPB: Puncak Bogor Rentan Terhadap Cuaca Ekstrim

Pemkab Bogor perlu menyusun Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) kawasan Puncak agar pembangunan dapat dikendalikan.

Terjadi Lagi Bencana Alam, Pakar IPB: Puncak Bogor Rentan Terhadap Cuaca Ekstrim
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Ernan Rustiadi 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Koordinator Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak, Ernan Rustiadi, mengatakan bahwa untuk bencana banjir dan longsor yang terjadi di kawasan Puncak menunjukan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) itu sendiri.

Dimana menurutnya hutan yang sehat akan menunjukan kondisi DAS yang sehat pula.

"Kawasan Puncak sudah mengalami degradasi dan pembangunan yang terjadi tidak sesuai dengam daya dukung lingkungannya, daya dukung semakin turun, semakin rentan terhadap cuaca ekstrim dan luasan hutan di kawasan Puncak tak cukup," ungkap Ernan.

Peneliti Senior pada Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB ini juga mengatakan bahwa alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab menyusutnya kawasan hutan lindung di hulu Sungai Ciliwung yakni di Kawasan Puncak Bogor.

Diimana lanjut dia, Pemkab Bogor perlu menyusun Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) kawasan Puncak agar pembangunan dapat dikendalikan dan dampak lingkungan dapat diminimalisir.

"Namanya fenomena Urban Sprawl, itu kota yang luas tapi sebenarnya tidak padat, tidak efisien, meluasnya pun tidak teratur, termasuk imbasnya ya ke kawasan Puncak, banyak alih fungsi lahan yang gak perlu, sebenernya harus kita tetep jaga ruang terbuka hijaunya," ujarnya.

Selain itu, menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), selama dari tahun 2000 sampai 2016, 5,7 ribu hektar hutan di sepanjang DAS Ciliwung telah hilang karena beralih fungsi.

Saat ini pun sepanjang DAS Ciliwung hanya menyimpan 3,4 ribu hektar hutan alam atau 8,9 persen dari total DAS Ciliwung padahal angka minimalnya adalah 30 persen.

"Yang (berubah menjadi) bukan hutan ini dikuasai oleh beberapa oknum, pertama pembiaran dengan tidak adanya pengawasan dari pemangku kawasan, dicoba dikuasai dimanfaatkan oleh oknum kemudian dikonversi menjadi lahan pertanian, vila dan bangunan, macem-macem," ujar Pengkampanye FWI, Anggi Putra Prayoga.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Damanhuri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved