Letusan Gunung Agung Tahun 1963 Dikabarkan Sempat Tewaskan Ribuan Warga, Pengungsi Ini Masih Trauma
Lontaran lava yang sangat panas, menyebabkan kebakaran hutan di sekitar puncak Gunung Agung.
Penulis: Damanhuri | Editor: Vivi Febrianti
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Sejumlah gunung berapi di Indonesia kini kembali menunjukan aktivitasnya.
Di antaranya yakni Gunung Agung yang kembali meletus setelah tertidur setengah abad lebih.
Pada Senin (2/7/2018) malam, gunung berapi yang berada di daerah Bali itu meletus sehingga membuat warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Agung harus mengungsi untuk menyelamatkan diri.
Bahkan, berdasarkan lporan Badan Geologi, PVMBG di Pos Pengamatan Gunung Agung yang menyebutkan kolom abu tinggi letusan mencapai ketinggian 2.000 meter atau 2 kilometer dari atas puncak Gunung Agung.
Warga pun dilarang melakukan ativitas di radius 4 kilometer untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
Gunung Agung mengalami erupsi ekplosif strombolian disertai lontaran lava dan batu pijar.
Hal ini, membuat hutan di sekitar Puncak Gunung Agung mengalami kebakaran.
• Cerita Ditemukannya Nining Korban Hanyut di Pelabuhan Ratu 1,5 Tahun Lalu, Pakaiannya Masih Sama
Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menjelaskan, sepengamatan PVMBG lava dan batu pijar terlontar ke segala arah dengan jarak bervariatif mulai dari 500 meter hingga 2000 meter dari kawah Gunung Agung.
Lontaran lava yang sangat panas, menyebabkan kebakaran hutan di sekitar puncak Gunung Agung.
"Dari pukul 06.00 sampai petang kita tidak amati cahaya api atau glow. Itu bukanlah tanda Gunung Agung mulai tenang, justru itu tandanya lapisan dipermukaan mengeras dan jika tidak kuat menahan tekanan di bawah. Maka terjadi letusan strombolian," ungkapnya.
Kondisi inipun diprediksi masih terjadi.
Kedepannya Gunung Agung masih akan mengalami erupsi efusif berupa aliran lava di permukaan dan ekposif berupa lontaran lava dan batu pijar.
"Untuk saat ini kita belum lihat kemungkinan akan munculnya awan panas. Karena amplitudo seismik (kehempaan) tidak mengalami peningkatan berarti. Tapi beberapa hari nanti, mungkim strombolian masih mungkin terjadi disertai dentuman," terang Devy Kamil.
Ia pun meminta masyarkat untuk tidak mencoba-coba lagi mendaki Gunung Agung, selama PVMBG masih menetapkan statusnya di level III atau siaga.
Masyarkat juga tidak boleh ada yang beraktivitas 4 kilometer dari kawah Gunung Agung.
"Gunung ini masih siaga. Masih memiliki kemungkinan erupsi yang tinggi. Letusan seperti ini memang tidak terus terjadi, kadang kita lengah dan tiba-tiba strombolian seperti saat ini," ungkap Devy Kamil.
• Tak Hanya Jessica Kopi Sianida, 3 Orang Ini Juga Tega Racuni Sahabatnya Sendiri

Sementara itu, Sejumlah warga yang tinggal dilereng Gunung Agung hingga saat ini masih berada di pengungsian.
Sebagian dari mereka masih dibayangi trauma aktivitas Gunung Agung seperti tahun 1963 lalu yang dikabarkan menelan ribuan nyawa usai meletusnya Gunung Agung.
Ni Wayan Krenyet (70) warga asli Tanah Aron mengatakan, warga Tanah Aron yang mengungsi ke Bale Gedung Serba Guna sekitr 15 KK (Kepala Keluarga).
Menurutnya pengungsi asal Tanah Aron, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebendem, Karangasem masih bertahan di Bale Gedung Serba Guna Bebandem, Kecamatan Bebandem, warga sampai di Bale Gedung Serba Guna sekitar pukul 22.00 wita karena khawatir dengan lontaran lava pijar.
• 17 Bulan Dikabarkan Hilang Diseret Ombak Pelabuhan Ratu, Dokter Heran Riwayat Penyakit Nining Hilang
"Untuk sementara kita tinggal di sini (Bale Serba Guna) dulu, hingga kondisi baik. Semoga nanti malam kondisi Gunung Agung kembali normal seperti sebelumnya,"harap Wayan Krenyet ditemui di Gedung Serba Guna mengutip Tribun Bali, Selasa (3/7/2018) sekitar pukul 08.15 wita.
Sementara itu, Kadek Sutrisna menambahkan, warga Tanah Aron yang ngungsi ke Bal Serba Guna sebanyak 50 orang.
Namun, sebagian dari mereka telah kembali ke rumahnya untuk kembali berkativitas seperti biasa.
"Warga yang bertahan sekitar 25 orang,"tambah Sutrisna.
Menurutnya, saat ini sebagian warga masih dibayangi trauma kejadian letusan Gunung Agung pada tahun 1963 lalu.
"Warga yang masih berada di pengungsian trauma dengan kejadian 1963. Mereka takut. Seandainya nanti malam kondisi mebaik, kemungkinan kita semua pulang,"akui Sutrisna didampingi Ni Nyoman Krenyet.
Mengutip WartaKotalive.com yang tayang 14 September 2017, Gunung Agung merupakan sebuah gunung vulkanik tipe monoconic strato yang tingginya mencapai sekitar 3.142 meter di atas permukaan laut.
Gunung tertinggi di Bali ini termasuk muda dan terakhir meletus pada tahun 1963 setelah mengalami tidur panjang selama 120 tahun.
Lama letusan Gunung Agung tahun 1963 berlangsung hampir 1 tahun, yaitu dari pertengahan Februari 1963 sampai dengan 26 Januari 1964, dengan kronologinya sebagai berikut:
16 Februari 1963: terasa gempa bumi ringan oleh penghuni beberapa Kampung Yehkori (lebih kurang 928 m dari muka laut) di lereng selatan, kira-kira 6 kilometer dari puncak Gunung Agung.
18 Februari 1963: Kira-kira pukul 23.00 di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah.
19 Februari 1963: Pukul 01.00 terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang.
Pukul 10.00 terdengar lagi suara letusan dan asap makin tebal. Pandangan ke arah gunung terhalang kabut, sedang hujan lumpur mulai turun di sekitar lerengnya. Di malam hari terlihat gerakan api pada mulut kawah, sedangkan kilat sambung-menyambung di atas puncaknya.
20 Februari 1963: Gunung tetap menunjukkan gerakan berapi.
06.30 terdengar suara letusan dan terlihat lemparan bom lebih besar. 07.30 penduduk Kubu mulai panik, banyak diantara mereka mengungsi ke Tianyar, sedangkan penghuni dari lereng selatan pindah ke Bebandem dan Selat.
24 Februari 1963: Hujan lumpur lebat turun di Besakih mengakibatkan beberapa bangunan Eka Dasa Rudra roboh. Penduduk Temukus mengungsi ke Besakih. Awan panas letusan turun lewat Tukad Daya hingga di Blong.
25 Februari 1963: Pukul 15.15 awan panas turun di sebelah timur laut lewat Tukad Barak dan Daya. Lahar hujan di Tukad Daya menyebabkan hubungan antara Kubu dan Tianyar terputus. Desa Bantas-Siligading dilanda awan panas mengakibatkan 10 orang korban. Lahar hujan melanda 9 buah rumah di Desa Ban, korban 8 orang.
• Cerita Elah yang Pertama Kali Temukan Nining di Pelabuhan Ratu, Ini Kejanggalan yang Dialaminya
26 Februari 1963: Lava di utara tetap meleler. Lahar hujan mengalir hingga di Desa Sogra, Sangkan Kuasa. Asap tampak meningkat dan penduduk Desa Sogra, Sangkan Kuasa, Badegdukuh dan Badegtengah mengungsi ke selatan.
17 Maret 1963 : Merupakan puncak kegiatan.
Tinggi awan letusan mencapai klimaksnya pada pukul 05.32. Pada saat itu tampak awan letusannya menurut pengamatan dari Rendang sudah melewati zenith dan keadaan ini berlangsung hingga pukul 13.00.Awan panas turun dan masuk ke Tukad Yehsah, Tukad Langon, Tukad Barak dan Tukad Janga di selatan.
Di utara gunung sejak pukul 01.00 suara letusan terdengar rata-rata setiap lima detik sekali. Awan panas turun bergumpal-gumpal menuju Tukad Sakti, Tukad Daya dan sungai lainnya di sebelah utara. Mulai pukul 07.40 lahar hujan terjadi mengepulkan asap putih, dan ini berlangsung hingga pukul 08.10.
21 Maret 1963: Kota Subagan, Karangasem terlanda lahar hujan hingga jatuh korban lebih kurang 140 orang. Setelah letusan dahsyat pada tanggal 17 Maret.
• Pecinta Real Madrid, Najwa Shihab Ungkap Jagoan Ayahnya di Piala Dunia 2018, Tak Berubah dari Dulu
16 Mei 1963: Paroksisma kedua diawali oleh letusan pendahuluan, mula-mula lemah dan lambat laun bertambah kuat.
Pada sore hari 16 Mei, kegiatan meningkat lagi terus meneru, hingga mencapai puncaknya pada pukul 17.07. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi kira-kira 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13.
Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lebih kurang 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lebih kurang 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama.
Awan letusannya mencapai tinggi lebih kurang 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lebih kurang 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00.
Nopember 1963: Tinggi asap solfatara/fumarola mencapai lebih kurang 500 m di ats puncak. Sejak Nopember warna asap letusan adalah putih.
10 Januari 1964: Tinggi hembusan asap mencapai 1500 m di atas puncak.
26 Januari 1964: Pukul 06.50 tampak kepulan asap dari puncak Gunung Agung berwarna kelabu dan kemudian pada pukul 07.02, 07.05 dan 07.07 tampak lagi letusan berasap hitam tebal serupa kol kembang, susul menyusul dari tiga buah lubang, mula-mula dari sebelah barat lalu sebelah timur mencapai ketinggian maksimal lebih kurang 4.000 m di atas puncak. Seluruh pinggir kawah tampak ditutupi oleh awan tersebut. Suara lemah tetapi terang terdengar pula.
27 Januari 1964: Kegiatan Gunung Agung berhenti
Korban Meletusnya Gunung Agung
Menurut Suryo (1965, p.22-26) ada 3 sebab gejala yang menyebabkan jatuh korban selama kegiatan Gunung Agung dalam 1963, yakni akibat awan panas, piroklastika dan lahar.
Akibat awan panas meninggal 820 orang, 59 orang luka.
Akibat Piroklastika meninggal 820 orang, luka 201 orang.
Akibat lahar meninggal 165 orang, 36 orang luka.
(TribunnewsBogor.com/Damanhuri)