Breaking News:

Mahasiswa IPB Manfaatkan Tiga Ekstrak Daun Ini untuk Menekan Virus pada Tanaman Oyong

Umumnya pengendalian virus ini dilakukan dengan cara menggunakan pestisida untuk serangga vektor, karantina, dan bibit sehat.

Humas IPB
Tanaman oyong 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Beberapa spesies Cucurbitaceae merupakan tanaman yang tinggi akan nutrisi.

Squash mosaic comovirus (SqMV) merupakan salah satu virus penting yang menyerang tanaman curcubit termasuk oyong.

Virus ini menginfeksi tanaman melalui benih. Selain dapat terbawa benih, penyebaran virus ini juga berada di lapang yang terjadi secara mekanis dan melalui serangga kumbang.

Tanaman yang terinfeksi virus ini akan menunjukkan gejala yang dapat terlihat pada daun dan buah, namun ada juga yang tidak menunjukkan gejala.

Gejala yang ditunjukkan dari daun yaitu gejala mosaik, klorosis, melepuh, keriting, kaku, penyempitan ukuran, dan perubahan bentuk menjadi lebih bergerigi pada daun.

Gejala yang ditunjukkan pada buah yaitu perubahan bentuk buah dan corak kulit buah tidak rata atau tidak bercorak.   

Umumnya pengendalian virus ini dilakukan dengan cara menggunakan pestisida untuk serangga vektor, karantina, dan bibit sehat.

Pengendalian yang efektif dilakukan dengan menggunakan varietas tahan, namun tidak banyak tersedia varietas tahan ini di pasaran.

Salah satu upaya lain yang dapat dilakukan yaitu secara biologi melalui induksi ketahanan sistemik tanaman menggunakan ekstrak tanaman.

Hal inilah yang mendasari peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Tri Asmira Damayanti, bersama mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB yaitu Maharani Mustika Putri, yang memanfaatkan ekstrak daun bogenvil, daun jengger ayam, dan daun pukul empat untuk menekan infeksi SqMV.

“Keuntungan induksi ketahanan sistemik menggunakan ekstrak tanaman adalah tidak bersifat fitotoksik, meningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan hasil dan diaplikasikan dengan mudah di lahan. Pada penelitian sebelumnya, penggunaan ketiga ekstrak tanaman tersebut dipilih karena dapat menghambat infeksi BCMV pada kacang panjang dengan tingkat hambatan relatif mencapai 100 persen. Oleh karena itu, kami mencoba memanfaatkan tiga tanaman tersebut untuk menekan infeksi SqMV,” ujar Dr. Tri.

Selain menggunakan ekstrak tanaman, mereka juga menggunakan asam salisilat atau aspirin sebagai pembanding. Asam salisilat sendiri mampu meningkatkan ketahanan tanaman.

“Benar dugaan kami, ekstrak daun tanaman bogenvil, jengger ayam, dan pukul empat lebih efektif dalam menekan infeksi SqMV dibandingkan aspirin. Namun, perlakuan ekstrak daun bogenvil merupakan perlakuan yang terbaik dalam menekan infeksi SqMV. Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dengan penyemprotan tiga ekstrak daun tanaman pada oyong mampu menekan infeksi Squash mosaic comovirus (SqMV),” jelasnya.

Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved