Breaking News:

4 Kasus Pembuangan Bayi Di Kota Bogor Tahun 2017 Belum Terungkap, Ini Kata Pengamat

Ia pun berharap agar aparat penegak hukum bisa menangkap dan mencari tau motif dibalik pembungan bayi tersebut.

KOMPAS.com/ DOK HUMAS POLRESTABES BANDUNG
ILUSTRASI - Petugas Polsek Antapani tengah mengevakuasi mayat bayi kembar berjenis kelamin perempuan yang ditemukan di penampungan tempat sampah sementara di Perumahan Taman Sari Bukit Bandung Blok 17 Rt06/11 Kelurahan Sindangjaya Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung, Kamis (7/6/2018) pagi tadi. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Maraknya kasus pembungan bayi pada tahun 2017 lalu di Kota Bogor belum juga terungkap siapa pelakunya.

Dari data peliputan TribunnewsBogor.com, empat kasus tersebut terjadi dalam kurun waktu tiga bulan pada tahun 2017 lalu yaitu sejak bulan Juni 2017 hingga Agustus 2017.

Namun hingga kini pelaku dan motif pembuangan bayi itu pun belum diketahui.

Pada tahun 2018 ini kasus pembungan bayi kembali terjadi pada 20 Juli 2018 beberapa hari lalu di wilayah Bogor Timur.

Saat di Konfirmasi Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota Agah Sonjaya mengatakan bahwa belum ada tersangka dalam kasus pembuangan bayi tahun 2017.

"Belum ada (belum ada pelaku yang ditangkap)," ucapnya.

Sempat Diisukan Pacaran, Michelle Ziudith Ungkap Isi Hati Soal Dimas Anggara yang Menikahi Nadine

Menanggapi maraknya pembuangan bayi tersebut Pengamat Kebijakan Publik Yusfitriadi mengatakan bahwa kasus pembuangan bayi merupakan fenomena yang memprihatinkan.

Ia pun berharap agar aparat penegak hukum bisa menangkap dan mencari tau motif dibalik pembungan bayi tersebut.

"Nanti dari sana, bisa dipetakan masalahnya dan diberikan penanganan. Karena tidak serta merta bisa digeneralisir bahwa kasus pembuangan bayi ini adalah hasil pergaulan intim diluar nikah atau hasil pergaulan bebas dari para generasi muda di Kota Bogor," katanya kepada TribunnewsBogor.com.

"Karena dibeberapa tempat kita juga bisa melihat pembuangan bayi tersebut bisa bermotif tidak bisa mengurus dan membesarkan karena masalah ekonomi, atau misalnya kelahirannya tdk dikehendaki karena faktor lain," tambahnya.

Maju Nyaleg Malah Disarankan Jadi Ketua RT Oleh Najwa Shihab, Ini Jawaban Giring Nidji

Pria yang juga menjabat sebagai Rektor STKIP Muhamadiyah Cabang Kabupten Bogor itu pun menjelaskan bahwa nantinya akan ada solusi yang bisa diambil oleh pemangku kebijakan untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Iya solusinya bisa pengawasan sari keluarga atau bisa jadi dari bidang pendidikan ketika itu disebabkan karena pergaulan bebas atau dan lainnya, namun sebagai efek jera jelas hukum harus ditegakan, tidak boleh longgar bagi siapapun, karena diyakini bahwa berbagai kejahatan terjadi diantara faktornya adalah supermasi hukum yang tidak tegak," tegasnya.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved