Breaking News:

Penjual Tutut Yang Diduga Sebabkan Puluhan Warga Sukabumi Keracunan Diamankan Polisi

Ia menerangkan bahwa hasil pemeriksaan sementara, usaha tutut atau keong sawah milik ER itu baru berjalan tiga bulan lamanya.

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Damanhuri
Istimewa
Sejumlah warga mengantarkan jenazah korban yang diduga tewas usai makan tutut di Desa Citamiang, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi ke pamakaman setempat 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIKOLE - Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Susatyo Purnomo Condro mengatakan bahwa pihaknya berhasil mengamankan pedagang tutut yang diduga menjadi penyebab puluhan warga Kadudampit Sukabumi keracunan.

Ia mengatakan bahwa pihaknya mengamankan dua orang yakni D (42) dan ER (43) di wilayah Cianjur, Rabu (25/7/2018) sore tadi.

"ER merupakan pengolah tutut tempat D bekerja sebagai penjual tutut keliling di wilayah Kadudampit sejak tiga bulan ke belakang," kata Susatyo kepada wartawan, Rabu (25/7/2018).

Ia menerangkan bahwa hasil pemeriksaan sementara, usaha tutut atau keong sawah milik ER itu baru berjalan tiga bulan lamanya.

Lanjut dia, ER kerap membeli bahan baku tutut itu dari Karawang namun karena stok habis, ER kemudian membelinya dari Cirata untuk dijual di kawasan Sukabumi dan Cimahi.

Masih Susatyo, pihaknya juga akan melibatkan Dinas Kesehatan untuk penyelidikan lebih lanjut terhadap pengolahan tutut yang dilakukan ER tersebut.

"Sekarang status mereka masih saksi dan masih dalam pemeriksaan," pungkas Susatyo.

Diberitakan sebelumnya, 52 orang di Desa Sukamanis dan Citamiang, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi mengalami keracunan keong sawah atau tutut.

Menurut Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Susatyo Purnomo Condro, di desa Sukamanis ada 18 orang yang menjadi korban, sementara di Desa Citamiang ada 34 orang serta satu orang dinyatakan tewas.

"Satu orang diantaranya meninggal dunia yang selanjutnya dilakukan outopsi," kata Susatyo ketika dikonfirmasi TribunnewsBogor.com, Rabu (25/7/2018).

Mereka mengalami keracunan sejak Senin (23/7/2018) dan korban terus bertambah hingga Selasa (24/7/2018) kemarin setelah para warga dari kedua desa itu menyantap tutut dari pedagang tutut keliling.

"Perkembangan penanganan korban keracunan diduga akibat makan keong atau tutut. Barang bukti yang disita, sisa makanan," kata Susatyo.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved