Bertahun-tahun Warga Bogor Ini Gunakan Jembatan Kereta Api Berlapis Bambu Untuk Menyebrang Kampung

Ketika melintas, aliran sungai di bawah akan mudah terlihat di bawah kaki di lubang antara potongan bambu dan kayu tersebut.

Tayang:
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Jembatan kereta digunkaan warga Kelurahan Kertamaya Kota Bogor dan Desa Cijeruk Kabupaten Bogor untuk menyebrang agar tak memutara jauh 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIJERUK - Sudah bertahun-tahun warga Kelurahan Kertamaya Kota Bogor dan Desa Cijeruk Kabupaten Bogor menggunakan jembatan rel kereta api sebagai akses penyeberangan.

Pantauan TribunnewsBogor.com, Rabu (8/8/2018), jembatan yang terletak di atas Sungai Cisadane ini dilapisi bambu dan kayu.

Potongan kayu tampak diletakan berbaris di sepanjang rel kereta api.

Sedangkan di kanan dan kirinya dipasang beberapa bambu panjang kemudian potongan bambu yang dianyam dan diperkuat kawat baja, diletakan di atasnya.

Ketika melintas, aliran sungai di bawah akan mudah terlihat di bawah kaki di lubang antara potongan bambu dan kayu tersebut.

Terlebih, jembatan itu terpantau cukup tinggi beberapa ratus meter dari atas permukaan sungai dangkal dengan bebatuan besar sebagai dasarnya.

Jembatan kereta yang dilapisi bambu untuk kendaraan warga Kelurahan Kertamaya Kota Bogor dan Desa Cijeruk Kabupaten Bogor menyebrang agar tak memutar jauh
Jembatan kereta yang dilapisi bambu untuk kendaraan warga Kelurahan Kertamaya Kota Bogor dan Desa Cijeruk Kabupaten Bogor menyebrang agar tak memutar jauh (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Salah satu warga sekitar, Samsu (55), mengatakan bahwa di kawasan tersebut memang tak ada jembatan sehingga terpaksa menggunakan jembatan kereta api untuk penyeberangan warga.

"Emang di sini mah gak ada jembatan, makanya pakai jembatan rel ini, tapi kalau mobil gak bisa, harus muter arah, kalau motor bisa," kata Samsu kepada TribunnewsBogor.com, Rabu (8/8/2018).

Ia juga mengaku bahwa walau pun ada lapisan baja kerangka jembatan, ketika melintas memang terasa ngeri.

Karena baja yang ada berjajar berjarak renggang beberapa meter, hingga kemudian warga menutupinya dengan bambu dan kayu agar mejadi lebih rapat.

"Aman sih katanya, tapi ya agak ngeri juga sih kalau lewat, soalnya ini juga udah lama, mungkin sejak ada rel kereta api ini aja," ungkapnya.

Namun terpantau, kendaraan roda dua yang hendak melintas pun tampak enggan melewati jalur jembatan bagian kiri dan kanan rel dan lebih memilih melintas secara bergiliran satu arah di jalur tengah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved