Kualitas Pakan Pengaruhi Tingkat Produktivitas Sapi Perah Dan Potong

kebutuhan susu nasional tercatat berkisar 4.5 juta ton, namun produksi baru mencukupi sebanyak 19 persen atau sekitar 864.600 ton.

TribunnewsBogor.com/Mohamad Afkar Sarvika
sapi potong 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Mohamad Afkar Sarvika

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Kualitas pakan yang unggul akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas sapi perah dan potong.

Menurut Ketua Pusat Unggulan Iptek Bioteknologi Sapi Potong dan  Sapi Perah LIPI, Yantyati Widyastuti, penggunaan pakan berkualitas dan suplemen pakan yang tepat fungsi dan teruji unggul di dalam rumen sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong dan sapi perah di Indonesia.

Dikatakannya bahwa kadar nutrisi dan kualitas dari pakan penting untuk diketahui dan diuji terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak sapí.

"Hal ini dilakukan agar pakan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak sapi untuk dapat berproduksi secara optimal baik untuk produksi daging ataupun susu," ujarnya dalam Workshop Evaluasi Kualitas Pakan dan Ekologi Rumen di Bogor.

Ia pun menjelaskan, peningkatan produktivitas sapi potong maupun perah saat ini memang menjadi tuntutan utama.

Sebab, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia hingga tahun 2018, Indonesia baru dapat memenuhi kebutuhan daging sapi sebesar 70 persen dan sisanya masih impor.

Sementara itu, kebutuhan susu nasional tercatat berkisar 4.5 juta ton, namun produksi baru mencukupi sebanyak 19 persen atau sekitar 864.600 ton.

Hal ini mengakibatkan adanya impor susu dalam jumlah yang sangat besar yakni 3,65 juta ton atau sekitar 81 persen dari total konsumsi.

"Permasalahan yang sedang kita hadapi ini perlu disikapi serius oleh semua pihak, mengingat sumber daya alam dan luas wilayah yang kita miliki sangat memungkinkan untuk mewujudkan swasembada daging dan susu," jelasnya.

Menurutnya, selama ini pengujian kualitas pakan dilakukan dengan menggunakan analisa standar laboratorium terkadang harus melalui prosedur yang rumit dan memerlukan waktu yang lama, serta memerlukan bahan kimia lain dalam analisanya.

Hal ini memungkinkan timbulnya pencemaran lingkungan sebagai akibat dari penggunaan bahan kimia selama proses pengukuran dan pengujian.

"Jadi inilah yang perlu dievaluasi," tekannya.

Ia menuturkan, diperlukan metode lain untuk pengujian kualitas dan kadar nutrisi dari pakan sapi, selain metode analisa kimia di laboratorium.

Teknologi Near-infrared Spectroscopy (NIRS) adalah salah satu metode baru yang berpotensi untuk menggantikan metode analisa kimia dalam penentuan kadar nutrisi pakan ternak.

"Metode teknologi NIRS ini memiliki banyak keunggulan, antara lain cepat, efektif dan efisien, ramah lingkungan karena tidak melibatkan penggunaan bahan kimia dalam aplikasinya, serta tidak merusak bahan," jelasnya.

Dilanjutkannya, metode NIRS memperhatikan keseimbangan mikroorganisme dalam rumen dan kesehatan ternak setelah pakan ternak yang berkualitas didapatkan.

"Keseimbangan mikroorganisme dalam rumen dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Adanya informasi ekologi rumen sampai pada tingkat keragaman mikroorganisme pada saluran rumen sangat penting untuk dianalisa," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved