Survei Pilpres Lewat Twitter, Ridwan Kamil : Menurut Saya Itu Tidak Ilmiah

Emil juga menjelaskan bahwa pengguna media sosial di Indonesia baru mencapai angka 40 persen.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
Wali Kota Bogor, Bima Arya (kiri) dan Gubernur Jawa Barat terpilih, Ridwan Kamil saat berkunjung ke Kota Bogot, Rabu (15/8/2018) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Belakangan ini publik diramaikan dengan poling Bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden pada 2019 mendatang.

Gubernur Jawa Barat terpilih Ridwan Kami mengungkapkan pendapatnya soal poling atau survei di twitter.

Menurutnya poling yang dilakukan di media sosial twitter tidak ilmiah.

Hal itu dikarenakan akun twitter bisa dibuat oleh satu orang lebih atau bisa dikatakan sebagai akun palsu.

"Polling twitter bagi saya kurang ilmiah, menurut pendapat saya, karena twitter jenis medsos yang akun bohongnya mudah dibangun, murah, suka ada nama pakai nomor-nomor, itu contohnya, kalau menentukan pilihan, lewat medsos menurur saya tidak mewakili wajah dari pendapat masyarakat, jadi satu ada akun aku Bott," ujarnya usai berdialog dengan kementerian Ingris di Kebun Raya Bogor, Rabu (15/8/2018).

Emil juga menjelaskan bahwa pengguna media sosial di Indonesia baru mencapai angka 40 persen.

Menurutnya pengguna twitter masih jauh lebih kecil dibanding dengan pengguna facebook dan instagram.

"Mewakili opini publik saja bukan membaca situasi yang dipetakan oleh survey, survey saja sering tidak dipercayai, pilih saja lembaga seperti univesritas, saya tidak mau pilpres kaya 2014, Terpecah belah," ujarnya.

Emil pun berpesan sebagai warga negara Indonesia harus mensyukuri demokrasi.

Karena menurutnya dengan demokrasi masyarakat bebas memilih pemimpin yang mereka pilih.

"Semua yg mencalonkan diri sebagai pemimpin tentunya adalah orang baik, tentunya kita dukung, maka pesan pertama saya tentulah gunakan masa pemilihan dan kampanye ini dengan cara yg positif, saya melihat masih terbawa arus arus yang negatif, saya sebagai contoh waktu pilkada jabar, di wa grup di medsos hingga masjid masjid ada black kampanye, saya sedih, maka waktu dengan pasangan rindu saya bilang kita tidak boleh begitu, rindu menang dengan cara baik, gagasan tidak perlu black campaign Alhamdulillah kan, saya berharap itu terjadi di pilpres. Sehingga gunakanlah parameter parameter yang lebih efektif," ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved