Gempa di Donggala

Selamat Dari Tsunami Palu, Pengungsi di Masjid Agung Sempat Lari ke Bukit Gara-gara Info Ini

setelah selamat dan berdiam di tempat pengungsian atau Masjid Agung Palu, mendapat kabar ada gempa susulan.

Penulis: Sachril Agustin Berutu | Editor: Ardhi Sanjaya
Dokumentasi Tria Aditia Utari
Tria Aditia Utari 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Sachril Agustin Berutu

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, TANAHSAREAL - Selamat usai gempa 7,7 SR mengguncang ditambah tsunami di Palu tak membuat masyarakat tenang.

Pramugari Garuda Indonesia Tria Aditia Utari bercerita, setelah selamat dan berdiam di tempat pengungsian atau Masjid Agung Palu, mendapat kabar ada gempa susulan.

Tria yang sedang bersama Flight Service Manager, Surjo Prasetyo sedang sarapan pagi sekira pukul 08.00 WITA Sabtu (29/9/2018), datang kabar adanya gempa susulan dengan magnitudo 5,5 dan berpotensi tsunami.

"Orang-orang panik dan berlarian setelah mendengar info itu. Mereka lari ke luar masjid ke arah barat menuju bukit," katanya, saat ditemui di rumahnya, di Tanah Sareal, Selasa (2/10/2018).

Tapi, lanjut Tria, Surjo yang merupakan managernya berkata untuk tidak menuju dataran tinggi.

Cerita Pramugari Garuda Indonesia Selamat Dari Tsunami Palu : Sempat Tolong Ibu yang Berlumur Darah

Cerita Pramugari Selamatkan Diri dari Terjangan Tsunami di Palu, Air Sempat Surut Tapi Kembali Naik

"Manager saya bilang untuk tidak ikut lari. Dia berkata kalau mau datang tsunami, pasti ada gempa terlebih dahulu. Ia mengatakan bahwa informasi ini mungkin hoax," lanjutnya.

Menurut Surjo, ada segelintir orang yang menyebarkan informasi bohong untuk menjarah barang orang-orang.

"Saya, Manager saya, dan beberapa orang lainnya tidak ikut lari. Benar saja, tidak ada gempa dan tsunami. Orang-orang yang berlarian termasuk kru saya balik lagi ke masjid sambil banyak teriakan 'Bohong... Bohong...' Kami berpikir hal ini mungkin dimanfaatkan untuk mencuri barang warga," tuturnya panjang lebar.

Sambung Tria, saat Sabtu pagi itu, Captainnya, Abdul Rozaq dan First Officer, Sri Ageng Muhamad Imran, sedang melakukan inpeksi run way ke bandara.

Tak lama, sang Captain kembali dan menceritakan bahwa jalur pesawat retak dan hancur sekira 250 meter (m).

Akhirnya diputuskan untuk ke bandara terlebih dahulu karena di sana merupakan tempat paling tinggi.

Sesampainya di sana, Tria bersama kru Garuda lainnya diberitau ada helikopter Hercules yang bisa membawa mereka keluar dari Palu.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved