Menelisik Bengkel Pembuatan Gong di Bogor yang Usianya Lebih Dari 3 Abad
Suara palu terdengar, ketika tiga pekerja memukul-mukul perunggu yang telah dipanaskan.
Penulis: Sachril Agustin Berutu | Editor: Damanhuri
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Sachril Agustin Berutu
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR BARAT - Suara dentuman besi yang dipukul palu terdengar begitu keras ketika melangkahkan kaki ke bengkel pembuatan Gong yang berlokasi di jalan Pancasan, Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.
Saat TribunnewsBogor.com melangkahkan kaki ke bengkel pembuatan gong tersebut, terlihat lima orang pekerja tampak sedang sibung dengan tugasnya masing-masing untuk membuat gong.
Bengkel pembuatan gong yang diberi nama Gong Factory usianya sudah lebih dari 3,5 abad.
Pembauatan gong ini dilakukan secara manual oleh tangan-tangan terampil.
Diruangan yang penerangannya mengandalkan pantulan sinar matahari dari luar itu terlihat tungku dan tumpukan arang untuk membakar perunggu yang menjadi bahan dasar pembuatan gong.
Suara palu terdengar, ketika tiga pekerja memukul-mukul perunggu yang telah dipanaskan.
"Sedang membuang bonang (gong) Mas," kata Yasit, selaku tukang palu Gong Factory saat disapa TribunnewsBogor.com, Selasa (16/10/2018).
Ketika perunggu ini dipukul dengan palu, perunggu ini dicapit oleh satu pekerja dengan dua penjepit sambil ia bentuk lekukan agar menjadi bonang seutuhnya.
Proses pembuatan gong atau bonang ini memang butuh keterampilan dan keahlian khusus agar hasilnya sempurna.
"Perunggu dipanaskan sampai bewarna merah, tapi enggak boleh terlalu kemerahan. Kalau terlalu merah, perunggu akan meleleh. Kalau kurang merah, maka akan hancur ketika dipukul-pukul palu," kata Hidayat, bagian pembakaran.
Tak hanya itu, kesabaran juga menjadi bagian penting dalam proses pembuatan alat musik tradisional ini.
Sebab, untuk membuat satu gong, perunggu harus berkali-kali dibakar dibara api yang panas dan di pukul menggunakan palu.
"Berapa yang dihasilkan per harinya itu tergantung diameternya. Kalau bonang, satu hari bisa jadi lima. Untuk kemp, satu hari dapat satu," tutur Hidayat.
Menurutnya, dalam sehari bisa menghabiskan 10 karung arang untuk membuat gong.
"Kami tidak membuat gong setiap hari, tergantung pesanan saja. Setiap lekukan ini, kami buat tergantung permintaan konsumen saja. Bila ada pesanan, satu harinya dibutuhkan sekira 10 karung arang," jelas Hidayat.
Gong tersebut dibandrol dengan harga beragam tergantung pesanan konsumen yang dibandrol Rp 800 ribu per-kilogramnya.
"Jadi kalau beratnya misalnya 2,5 kg, dikali saja," jelasnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/gong_20181016_130503.jpg)