Pakar Ilmu Keluarga Sebut Anak Laki-laki Rentan LGBT

Pada mulanya anak-anak mengalami adiksi game online yang kemudian temuan konten pornografi sering didapati dari game online tersebut.

Penulis: Afdhalul Ikhsan | Editor: Yudhi Maulana Aditama
TribunnewsBogor.com/Ardhi Sanjaya
Stiker tanda Lesby Gas Besex and Transgender (LGBT) tersebar di setiap tiang di pendestrian Jalan Kapten Muslihat, Bogor Tengah, Kota Bogor. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Afdhalul Ikhsan

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - Era digital menjadi semakin riskan terhadap kehidupan keluarga.

Di satu sisi bermanfaat, di sisi lain justru membawa kecemasan orang tua terhadap anak-anak.

Parahnya, kini banyak kasus dimana penyimpangan seks yang terjadi pada anak-anak dan mereka berkumpul di media sosial.

"Hasil survei dalam 2 tahun terakhir saya, meningkatnya kecemasan orang tua tentang kelahiran anak laki-laki dibandingkan anak perempuan karena hubungan sesama jenis jauh lebih berpotensi terhadap anak laki-laki dibandingkan anak perempuan," kata Ketua Penggiat Keluarga (GIGA) Indonesia, Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si dalam acara simposium nasional FANTASY 2018 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen (HIMAIKO) Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) di Auditorium Sumardi Sastrakusumah, kampus IPB Dramaga, Sabtu (20/10/2018).

Menurutnya, banyak anak-anak terjerat perangkat tehnologi digital, sosial media sehingga konsumsi waktu, energi dan keseimbangan hidup terganggu.

Pada mulanya anak-anak mengalami adiksi game online yang kemudian temuan konten pornografi sering didapati dari game online tersebut.

"Menjadi gila dan meninggal karena adiksi game online itu sudah ada di Indonesia dan WHO mengatakan game online adalah penyimpangan, nah apalagi kalau ada konten pornografi penyimpangan sosial dan seksual maka ini akan menjadi persoalan bagi keluarga," paparnya di depan peserta peserta symposium yang dihadiri oleh finalis LKTI, esai, dan peserta umum symposium.

"Anak-anak umur 11 sampai 13 tahun sekarang sudah belajar hubungan sesama jenis ketika dia memperoleh pornografi dari gadget, ia ingin coba-coba dan dia tau jika kalau hubungan lawan jenis akan mengakibatkan kehamilan sehingga ia belajar berhubungan dengan sesama jenis dan itu dipandu oleh sumber-sumber dari game, medsos makanya ini bahaya sekali," sambungnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, lantas bagaimana strategi keluarga ketika era digital, era global dan era destruksi dengan ciri-ciri tuntutan dan tantangannya ?

Keluarga harus mempunyai kebijakan bagaimana supaya era digital ini dioptimalisasikan diambil manfaatnya dikenali mudharatnya dan dicegah.

"Jadi strategi keluarga di era digital kita harus punya gambaran apa tuntutan kepada kita kalau kita ingin mendapat manfaat dan apa yang menjadi pantangan bagi keluarga untuk mencegah ancaman dan resiko tehnologi informasi dan medsos," tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved