Breaking News:

Ahli Biologi IPB : Pongo Tapanuliensis, Spesies Baru yang Terancam Punah

Dr Puji menjelaskan, orangutan Tapanuli ditemukan di dataran tinggi Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Humas IPB
Himpunan Mahasiswa Profesi Satwa Liar (Himpro Satli), Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) menyelenggarakan Seminar bertajuk Pongo tapanuliensis: Tapanuli Long Lost Treasure di Kampus IPB Dramaga. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Himpunan Mahasiswa Profesi Satwa Liar (Himpro Satli), Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) menyelenggarakan Seminar bertajuk "Pongo tapanuliensis: Tapanuli Long Lost Treasure"di Kampus IPB Dramaga.

Seminar tersebut menghadirkan Dr Puji Rianti, salah satu peneliti genetika konservasi spesies Orangutan.

"Jika Orangutan Tapanuli disebut sebagai long lost treasure, sebetulnya bukan. Karena sebenarnya Orangutan Tapanuli sudah ada sejak dahulu. Namun, semua orang menyangka bahwa Orangutan Tapanuli merupakan Orangutan Sumatera," ujar Staf Pengajar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB ini.

Berdasarkan penjelasan Dr. Puji, Orangutan Tapanuli ditemukan di dataran tinggi Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Orangutan Tapanuli resmi ditetapkan sebagai spesies baru Orangutan pada akhir tahun 2017.

Terdapat beberapa perbedaan antara Orangutan Tapanuli dengan Orangutan Sumatera dan Borneo.

"Dari sudut pandang morfologi, Orangutan Tapanuli memiliki warna rambut lebih merah dan gimbal. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena dataran tempat tinggal Orangutan Tapanuli lebih tinggi dibandingkan Orangutan Sumatera dan Borneo. Bentuk wajahnya lebih berambut dan jika dilihat dari bantalan pipi, besar ukurannya berada di tengah-tengah antara ukuran Orangutan Sumatera dan Borneo. Bentuk bantalannya pun cenderung flat," katanya.

Diketahui bahwa jumlah Orangutan Tapanuli kini diprediksi hanya tinggal sekitar 800 ekor saja di alam liar.

"Adanya penemuan spesies Orangutan baru tentu merupakan kabar gembira, namun sekaligus menyedihkan mengingat status dari Orangutan Tapanuli telah memasuki daftar spesies critical in danger," ujarnya.(*)

Editor: Soewidia Henaldi
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved