Mapolsek Penjaringan Diserang

5 Fakta Dibalik Penyerangan Seorang Pria ke Polsek Metro Penjaringan Hingga Lukai Polisi

Polsek Metro Penjaringan diserang seroang pria berkepala plontos hingga melukai anggota polisi yang tengah berjaga

Penulis: Damanhuri | Editor: Yudhi Maulana Aditama
Istimewa/Dok. Polsek Metro Penjaringan
Rohandi (31), penyerang Mapolsek Metro Penjaringan pada Jumat (9/11/2018) sekira pukul 01.35 WIB. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Polsek Metro Penjaringan diserang seorang pria bernama Rohandi (31), Jumat (9/11/2018).

Akibatnya, seorang aparat kepolisian Polsek Metro Penjaringan terluka terkena sabetan senjata tajam yang dibawa oleh pelaku.

Saat ini pelaku sudah berhasil diringkus oleh polisi untuk dimintai keterangannya di Polsek Metro Penjaringan.

Insiden penyerangan ke Polsek Matro Penjaringan yang dilakukan pria berkepala plontos itu terjadi sekitar pukul 01.35 WIB dini hari.

Saat ini poliis masih mendalami motif penyerangan yang dilakukan oleh pria secara membabi buta itu.

TribunnewsBogor.com merangkum fakta-fakta dibalik penyerangan yang dilakukan Rohandi ke Polsek Metro Penjaringan:

1. Anggota polisi terluka

Kepala SPK Polsek Metro Penjaringan AKP MA Irawan mengalami luka ringan setelah terkena sabetan senjata tajam yang dibawa oleh pelaku.

Kapolsek Metro Penjaringan AKBP Rachmat Sumekar mengatakan, ketika korban piket, tiba-tiba datang pelaku yang mengendarai Yamaha Vega ZR bernopol B 6825 UWC, dan memarkir kendaraannya di luar gerbang.

“Pada saat pelaku turun dan disapa oleh petugas SPK, pelaku langsung menyerang anggota menggunakan sebilah golok dan pisau babi,” kata Rachmat, Jumat (9/11/2018) melansir Warta Kota.

Tanggapi 500 Hari Kasus Penyerangan Novel Baswedan, Gus Nadir: Catatan Buruk Jenderal Tito Karnavian

Anggota lalu berusaha menghindar dan meminta bantuan rekannya yang berada di SPK. Namun pelaku terus mengejar korban ke SPK.

AKP Irawan yang berada di dalam SPK, lalu melawan pelaku yang terus menyerang.

“Pelaku melempar pisau babi yang dipegang di tangan kirinya, dan golok masih dipegang di tangan kanannya, sambil menyerang petugas. Korban akhirnya terjatuh terkena sabetan golok pelaku yang mengenai tangan dan menimbulkan luka ringan,” ucapnya.

2. Pelaku dilumpuhkan dengan tembakan

Usai menyerang seorang petugas kepolisian, Rohandi rupanya semakin berutal dan mencari anggota lain untuk ia lukai.

Pelaku yang kebetulan melihat ada dua anggota reskrim di ruang PPA, malah menyerang mereka.

Serang Mapolsek Penjaringan dan Ingin Ditembak Mati Polisi, Pria Ini Frustasi Penyakitnya Tak Sembuh

Pelaku sempat memecahkan pintu kaca ruangan dengan golok yang dipegangnya dan menyerang kedua anggota reskrim.

Melihat situasi sudah tidak terkendali, salah satu anggota reskim lalu memberikan tembakan peringatan.

“Setelah diberikan tembakan peringatan, pelaku tidak mengindahkan, sehingga anggota memutuskan untuk melumpuhkan pelaku dengan menembak pangkal lengan pelaku,” tutur AKBP Rachmat.

Alhasil, golok yang dipegang pelaku terlepas, dan pelaku berhasil diamankan.

3. Diduga Depresi

Rohandi (31) diduga mengalami depresi hingga melakukan penyerangan ke Polsek Metro Penjariangan.

Menurut Kapolsek Metro Penjaringan AKBP Rachmat Sumekar mengatakan, aksi nekat pelaku tersebut diketahui akibat depresi karena penyakit yang selama ini dideritanya tidak kunjung sembuh.

Sehingga ia ingin ditembak mati oleh polisi karena frustasi dengan penyakit yang selama ini dideritanya.

“Iya mas, yang nyerang orang yang sedang depresi karena operasi getah bening tidak sembuh,” ungkap Rachmat, Jumat (9/11/2018).

Bidan Winda Trauma Usai Disuntik 56 Kali di Rumah Kosong, Istri Dokter: Saya Percaya Sama Suami Saya

Selain itu, korban juga diketahui sudah lama tidak bekerja. Frustasi dengan masalah yang dihadapi, Rohandi pun nekat menyerang Mapolsek Metro Penjaringan. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan cara ditembak polisi.

“Makanya dia mau mati tapi dengan cara nyerang polisi supaya ditembak,” ucapnya.

4. Pelaku Tak terlibat jaringan kelompok Terorisme

Keluarga pelaku memastikan jika penyerangan yang dilakukan Rohandi (31) ke Polsek Metro Penjaringan tidak ada kaitannya dengan terorisme.

Keluarga memastikan hal itu semata-mata karena aksi nekat pelaku.

“Saya minta jangan disangkutpautkan dengan masalah teroris, karena ini mungkin memang sudah jalannya dia seperti itu,” ungkap kakak pertama pelaku, Rohman (53), Jumat (9/11/2018) mengutip Warta Kota.

Apalagi, selama ini yang bersangkutan tidak pernah ikut organisasi masjid atau kepemudaan.

Tak hanya itu, kata dia, selama ini keseharian pelaku tidak pernah menunjukkan gelagat yang aneh.

Hanya saja, Rohandi yang merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara itu orangnya dikenal tertutup.

“Keseharian selain salat enggak ada, enggak punya handphone, nonton tv juga jarang. Dia enggak terbuka sama kakaknya, mereka juga mau gimana, kita sudah nasihatin tapi jalan manusia, mana tahu dapat hikmahnya,” tuturnya.

Hal itu juga diperkuat oleh pernyataan Kapolsek Metro Penjaringa, AKBP Rachmat Sumekar.

Maia Estianty Pamer Kemesraan dengan Irwan Mussry, Sarapan Bareng Teman Hidup

Rachmat juga menampik aksi nekat pelaku tersebut terkait kelompok tertentu.

Sebab, sejauh ini tidak ada bukti maupun petunjuk yang mengarah bahwa pelaku terlibat kelompok tertentu.

“Tidak ada, dia tidak tergabung dengan kelompok apa pun,” jelas Rachmat.

5. Pelaku Dikenal rajin beribadah

Pelaku penyerangan Polsek Metro Penjaringan yakni Rohandi (31) dikenal rajin beribadah namun juga pribadinya tertutup.

“Subhanallah, kenapa jadi begini adik saya. Saya enggak ngajarin, ikut siapa pun juga enggak pernah,” ungkap kakak pertama pelaku, Rohman (53), Jumat (9/11/2018).

Pria yang juga Ketua RT 05/RW 09 Pejagalan itu mengatakan, aksi nekat adiknya itu sudah diketahui seluruh keluarga dan mereka tidak menyangka Rohandi melakukan perbuatan nekatr itu.

Mahfud MD Diminta Nasihati Rocky Gerung Soal Logika Mencerdaskan, Beri Contoh Tentang Kehidupan

“Dia orangnya enggak mau tahu lingkungan, enggak pernah ke mana-mana, tahunya ibadah. Kalau Jumatan aja dia biasa berangkat duluan,” katanya.

Rohman menceritakan, malam sebelum kejadian tidak ada yang aneh dengan perilaku Rohandi. Bahkan, dirinya sempat berbincang dengan pelaku hingga akhirnya terjadi peristiwa penyerangan tersebut.

“Sorenya masih ngobrol, entah gimana pas pagi saya turun mau salat, motor saya udah enggak ada. Itu jam tiga udah keluar,” ujarnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved