Kesenian Pagutan yang Nyaris Pudar Ini Ditampilkan di Festival Budaya Daerah

Penampilan dari Kecamatan Leuwisadeng pada Festival Budaya di Lapangan Tegar Beriman, Sabtu (17/11/2018) yang berhasil menarik perhatian penonton.

Kesenian Pagutan yang Nyaris Pudar Ini Ditampilkan di Festival Budaya Daerah
TribunnewsBogor.com/Afdhalul Ikhsan
Festival Budaya di Lapangan Tegar Beriman, Sabtu (17/11/2018). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Afdhalul Ikhsan

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Dari 40 kecamatan yang mengikuti Festival Budaya Daerah di depan Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Kecamatan Leuwisadeng lah yang berhasil menarik perhatian penonton.

Bagaimana tidak, kecamatan ini menampilkan kesenian budaya yang nyaris pudar ditelan zaman.

Kesenian budaya ini bernama Pagutan, yang melibatkan kakek-kakek untuk menampilkannya.

Penanggung Jawab Tim Kesenian, Yusuf mengatakan, Pagutan ini adalah bacaan sholawat lana dengan memakai teka-teki atau pertanyaan yang dilontarkan oleh rekan-rekannya.

Apabila selama permainan ada yang bisa menjawab akan mengambil pio atau uang didepan yang sudah disediakan.

"Jadi mereka ini baris hadap-hadapan terus menebak teka-teki pengetahuan. Nah biasanya setiap kelompok akan merundingkan terlebih dahulu," ucapnya.

Asal-usul kesenian ini dari negara Mesir yang dibawa ke Indonesia pada tahun 1947 dikembangkan oleh KH Hasan Basri dan KH Mama Bakri Kedaung Jasinga.

"Asalnya dari daerah pabutan Kecamatan Rumpin dikembangkan di Kecamatan Leuwisadeng pada zaman Belanda," terangnya.

Seiring berjalannya waktu, kesenian budaya Pagutan ini makin dilupakan karena memerlukan keahlian khusus.

"Iya tadi pesertanya kakek kakek karena mereka yang betul-betul paham cara kerjanya, apalagi kesenian ini sudah ada sejak 1947," bebernya

Lanjutnya, Pagutan ini sekarang sudah pudar tidak ada yang meneruskan karena memerlukan keahlian khusus yaitu najoman najoman atau bacaan sholawat nabi yang diambil dari kitab-kitab terdahulu.

Dengan demikian, maka kami dari Kecamatan Leuwisadeng ingin menghidupkan kembali kesenian tradisi ini.

"Berangkat dari itu sebenarnya karena tidak ada yg meneruskan maka kami tampilkan kembali ke masyarakat di acara Festival Budaya Daerah ini," pungkasnya.

Penulis: Afdhalul Ikhsan
Editor: Vivi Febrianti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved