Mahfud MD Angkat Bicara Soal Kasus Baiq Nuril : Hukumannya Terasa Tidak Adil

Kasus pelecehan seksusal yang dialami Baiq Nuril, mantan pegawai Tata Usaha SMAN 7 Mataram oleh kepala sekolah mendapat tanggapan dari Mahfud MD

Mahfud MD Angkat Bicara Soal Kasus Baiq Nuril : Hukumannya Terasa Tidak Adil
Kolase Tribunnews.com/Kompas.com
Mahfud MD dan Baiq Nuril 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kasus pelecehan seksual yang dialami Baiq Nuril, mantan pegawai Tata Usaha SMAN 7 Mataram oleh kepala sekolah, Muslim mendapat tanggapan dari Pakar hukum tata negara, Mahfud MD.

Diketahui, Baiq Nuril divonis bersalah oleh Mahkamah Agung karena terbukti melanggar UU ITE.

Baiq Nuril divonis hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta.

Vonis bersalah tersebut dikabulkan MA pada Senin (12/11/2018), atas kasasi Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diajukan tahun 2017 lalu.

Baiq Nuril sebelumnya divonis bebas dan tak bersalah oleh Pengadilan Negeri Mataram.

Karena besarnya reaksi dari masyarakat, Kejaksaan Agung RI pun menunda eksekusi Baiq Nuril.

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Pusat Penerangan Kejaksaan Agung Mukri mengatakan kalau keputusan penundaan eksekusi diambil menyusul polemik yang berkembang di masyarakat bukan saja di level lokal, namun sudah dalam skala nasional.

Baiq Nuril Terancam 6 Bulan Penjara + Denda 500 Juta, Hotman Paris Sindir Lewat Foto Lalu Lintas

Tunda Eksekusi, Kejagung Minta Baiq Nuril Segera Ajukan Peninjauan Kembali

“Kita melakukan penundaan eksekusi dengan pertimbangan persepsi keadilan yang berkembang dan terus berkembang di masyarakat,” ujar Mukri dikutip dari Kompas.com.

Mukri mengungkapkan keputusan itu sudah melalui sejumlah pertimbangan di internal Kejaksaan Agung.

Salah satu pertimbangannya adalah terkait persepsi keadilan.

Berbicara soal hukum dan keadilan dalam kasus Baiq Nuril, Mahfud MD pun mendapat sejumlah pertanyaan dari netizen.

Seorang netizen bernama @BUDIYANTO250764 bertanya soal pandangan Mahfud MD terkait kasus Baiq Nuril.

"Prof. Gimana tentang Bu Nuril, yang divonis bersalah. Karena merekam pembicaraan yang melecehkan dengan tujuan sebagai bukti. Terimakasih atas kesediaan untuk menanggapi," tulisnya.

Lantas, Mahfud MD menjawab kalau majelis pengadilan dalam kasus Baiq Nuril hanya hanya menegakkan hukum formal tidak menegakkan keadilan substansial.

Reino Barack Akhirnya Buka Suara Soal Hubungannya dengan Syahrini: Sama-sama Single, Apa Urusan Dia?

Sebut Luna Maya Bohong, Reino Barack Bongkar Pertemuan Pertamanya dengan Syahrini : Apa Salahnya ?

Ia pun kembali mendapat pertanyaan dari netizen lainnya.

Kali ini pertanyaan datang dari netizen bernama @priebn.

"Waduh ini yang repot Prof, bagi awam spt saya, hukum dan keadilan mestinya bersanding ya.. mudah2an ada yg menegakkan keadilan" tulisnya.

Mahfud MD pun mengatakan kalau seharusnya hukum harus bersanding dengan keadilan.

"Bukan hanya menurut Anda. Menurut saya dan menurut ahli2 hukum lainnya juga "mestinya" hukum dan keadilan bersanding. Bahkan jg hrs bersanding dgn kemanfaatan. Yang kita bicarakan itu faktanya dlm kasus Bu Baiq, bukan mestinya."

Cuitan Mahfud MD
Cuitan Mahfud MD (Twitter @Mahfudmd)

Meski begitu, Mahfud MD menilai kalau proses hukum dari kasus Baiq Nurul sudah benar.

Namun Mahfud MD merasa kalau hukuman yang diterima Baiq Nuril tidak adil.

Pernyataan itu ia tulis ketika mendapat pertanyaan dari netizen bernama @geryazzy_.

"Kalo boleh nanya nih prof bagemana melihat kasus hukum nuril ? Apa sudah benar menurut prof hukuman yg diterima nuril?" tulisnya.

Mahfud MD pun menjawab, "Hukumnya sdh benar, tapi hukumannya terasa tidak adil. Hukum dan hukuman spt juga kepadtian hukum dan keadilan hukum tudak selalu sama." ucapnya.

Cuitan Mahfud MD
Cuitan Mahfud MD (Twitter @Mahfudmd)

Eksekusi Ditunda

Kejaksaan Agung RI menunda eksekusi terdakwa Mantan pegawai honorer SMAN 7 Mataram, Baiq Nuril Maknun terkait tindak kasus UU ITE.

“Kita melakukan penundaan eksekusi dengan pertimbangan persepsi keadilan yang berkembang dan terus berkembang di masyarakat,” ujar Kepala Pusat Penerangan Kejaksaan Agung Mukri melalui sambungan telepon kepada Kompas.com, Senin (19/11/2018).

Mukri menjelaskan, keputusan penundaan eksekusi diambil menyusul polemik yang berkembang di masyarakat bukan saja di level lokal, namun sudah dalam skala nasional.

Baiq Nuril terancam hukuman penjara 6 bulan dan denda 500 juta
Baiq Nuril terancam hukuman penjara 6 bulan dan denda 500 juta (regional.kompas.com)

Mukri mengungkapkan keputusan itu sudah melalui sejumlah pertimbangan di internal Kejaksaan Agung. Salah satu pertimbangannya adalah terkait persepsi keadilan.

“Dasar pertimbangan itulah (persepsi keadilan) kita lakukan diskusi dan kajian. Lebih urgent adalah pertimbangan persepsi keadilan itu,” tutur Mukri.

Surat permohonan penundaan eksekusi Bariq Nuril, kata Mukri, telah diterima Kejari Mataram.

Kejagung, lanjut Mukri, meminta, Baiq Nuril untuk segera melakukan peninjauan kembali (PK) atas putusan yang ia terima di Mahkamah Agung.

“Insyallaah kalau putusan PK (Peninjauan Kembali) sudah turun barulah kita eksekusi, karena sudah tidak ada upaya hukum lain,” tutur Mukri.

Kasus Baiq Nuril, Korban Pelecehan Seksual Oleh Kepala Sekolah, Divonis 6 Bulan Penjara

Baiq Nuril Terancam 6 Bulan Penjara + Denda 500 Juta, Hotman Paris Sindir Lewat Foto Lalu Lintas

Di sisi lain, Mukri menjelaskan, terdakwa terbukti melakukan penyebaran informasi yang menyangkut tindakan kesusilaan.

Terdakwa terbukti melanggar Pasal 27 ayat (1) UU ITE 19 Tahun 2016 dengan hukuman enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan penjara.

“Yang bersangkutan atau Bariq Nuril itu mengetahui adanya suatu perselingkuhan kemudian dia rekam, rekaman itu oleh yang bersangkutan ditransfer ke laptop dan beredarlah itu ke publik,” jelas Mukri.

“Akhirnya orang yang keberatan terhadap informasi itu dilaporkanlah dan diproses,” sambung Mukri.

Penulis: yudhi Maulana
Editor: Vivi Febrianti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved